Tampilkan postingan dengan label Tontonan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tontonan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2010

Indonesia Mencari Bakat - Bakat Indonesia Itu Memang Ada

Mungkin tulisan ini dianggap terlambat, tetapi menurut saya program andalan TransTV ini memang layak untuk diapresiasi. Alasan kuat saya menulis Indonesia Mencari Bakat ini karena pada hari Minggu tanggal 20 Juni kemarin adalah sesuatu yang membuat saya kagum dengan keanekaragaman bakat-bakat anak muda Indonesia. 

Keragaman yang sangat mengagumkan dari para Peserta pada episode tersebut sampai membawa para Juri kesulitan menentukan siapa bakat yang belum merupakan pilihan. Tiga terbawah dari segi popularitas memang cukup mengejutkan : Rumingkang dan Putri Ayu diantaranya selain JP Millenix yang sudah kedua kalinya berada pada posisi ini.

Sarah Sechan sempat berkomentar bahwa mereka terjebak pada pada posisi susah. Memilih JP seperti bukan pilihan yang tepat, karena selain usia yang sangat muda JP juga terus mengeksplor potensi dan bakat terpendam lain dari dirinya sehingga menambah banyak nilai plus buat performance-nya. Memulangkan Putri Ayu juga bukan hal yang mudah, karena talenta yang dimilikinya sepertinya lumayan susah dicari di Indonesia. Rumingkang yang membawa kesenian tari tradisional dengan koregrafi yang apik sehingga memikat untuk dinikmati juga tidak layak untuk disingkirkan. Khusus Rumingkang bahkan juri seolah terjebak dengan ketakutan dicap tidak cinta budaya Indonesia bila memilih mereka sebagai yang tidak berbakat. 

IMB berbeda dengan pemilihan-pemilihan bakat yang ada di Indonesia yang hanya mengandalkan popularitas saja. Seringkali polling sms lebih menentukan daripada bakat itu sendiri. Terus terang mungkin pemirsa kontes-kontes ini belum dewasa dalam menentukan mana yang layak untuk menjadi yang berbakat.

Dalam IMB dari penentuan polling sms didapat tiga terendah yang selanjutnya ditentukan oleh jJuri mana yang belum menjadi bakat pilihan. Konsep seperti ini jelas lebih fair, karena juri IMB berlatar belakang profesional-profesional yang memang berpengalaman dalam bidang hiburan (jelas berbeda dengan masyarakat biasa yang yang memiliki aneka latar belakang).

Melihat IMB pertama kali mengingatkan saya pada referensi teman untuk menonton rekaman Britain's Got Talent. Membawa konsep yang sama, Indonesia jelas lebih unggul. Beragam seni budaya tereksplor menjadi sebuah bakat yang sangat layak untuk ditampilkan. Peserta seperti Rumingkang, Berto, Belda (yang beberapa kali memadukan budaya Indonesia dengan fire dance-nya) mungkin hanya sedikit bakat asli Indonesia yang dapat tampil di IMB.  

Di session depan harapannya akan muncul bakat-bakat yang asli Indonesia. Ini tidaklah mengada-ada, karena bakat itu memang ada. Berbagai macam tarian, musik, nyanyian dan atraksi-atraksi budaya lainnya dimiliki Indonesia. Tanpa mengecilkan bakat lainnya, bakat-bakat berseni budaya asli Indonesia inilah yang harus lebih banyak dikenalkan terutama kepada generasi muda Indonesia.

Senin, 29 Maret 2010

Barack Obama : Sebuah Kemasan Entertainer

Polemik rencana kedatangan Barack Obama ke Indonesia yang berakhir penundaan cukup banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia. Masyarakat yang sepertinya bosan (asal jangan lupa) dengan berita-berita Century dan kasus-kasus politik dan korupsi dalam negeri yang seperti tak berkesudahan seolah menemukan berita baru yang lebih menarik. Mulai dari masa kecil sampai dengan politik pemerintahannya semuanya dikupas habis. Sekolah Obama waktu kecilpun diberitakan sampai menyiapkan acara seremonial khusus untuk menyambutnya bila mampir ke sekolah tersebut. Belum termasuk demo-demo penolakan kedatangannya, cukup membuat berita-berita di media lebih berwarna.

Saya pribadi tidak lagi tertarik dengan sosok Obama saat ini apalagi kebijakan politiknya yang jauh dari Indonesia (dia bukan orang Indonesia tentunya tidak memikirkan Indonesia). Saya lebih tertarik pada konsep entertaining dari kemunculannya pada saat akan maju menjadi wakil Partai Demokrat di perebutan kursi Presiden Amerika Serikat. Pertarungannya dengan Hillary Clinton seolah panggung hiburan baru yang menarik. Ketika akhirnya terpilih sebagai calon Presiden dari Partai Demokrat, panggung hiburan itu menjadi lebih menarik lagi. 

Tim kemenangan Obama seolah berhasil mengemas jualan mereka (Obama) menjadi sosok  calon pehlawan penyelamat Amerika Serikat. Amerika sendiri yang menjadi barometer entertainment dunia seolah menuntut sosok Presiden yang entertaining. Ditambah dukungan selebritis-selebritis Amerika (yang terkenal dan kita kenal) seolah menjadikan sosok ini benar super star kelas dunia. Pesona Obamapun menjadi lintas negara, karena sejarah kecilnya membawanya ke beberapa negara asal ayah kandungnya, asal ayah tiri dan masa kecilnya (yang kebetulan Indonesia), dan negara adik iparnya.

Kemenangan dan acara Inagurasi pelantikannyapun benar-benar bertabur bintang dengan tampilnya pesohor-pesohor Amerika berikut hiburan-hiburan yang melibatkan artis-artisnya.

Saat ini Obama seolah menjadi tokoh internasional yang banyak menyita perhatian dunia internasional. Tidak hanya kebijakan politiknya saja, tetapi sosoknya sendiri yang memang menjual. Setiap kegiatan sampai dengan keluarganya menjadi sorotan dari seluruh dunia. Sekali lagi tim Obama membuktikan kerja yang bagus, karena Obama tampil bak selebritis dan panggung politiknya bak panggung hiburan yang menarik. Sebuah kemasan yang menarik.

Apapun itu, kemasan yang dibuat seolah menutupi berbagai keburukan dan kejanggalan pemerintahan Obama. Harapannya semoga mereka tidak lupa untuk menampilkan Obama yang lebih berperikemanusiaan dan bersahabat dengan dunia tanpa menimbulkan masalah besar yang baru. 

Senin, 01 Maret 2010

American Idol : Ketika Mata lebih Dominan daripada Telinga

American Idol memasuki session ke 9 tahun 2010 ini. Sangat menarik sekali bagi saya menonton kontes ini (meskipun sejak tahun 2009 RCTI tidak lagi menayangkannya). Menonton di Star TV, American Idol telah memasuki babak 24 besar minggu lalu. Banyak inspirasi bagi dunia entartainment yang bisa diambil disini, mulai dari setting stage & venue, format kompetisi, penampilan host sampai konsep entertainment yang memunculkan bintang-bintang top sebagai penampil tamunya.

Satu ganjalan saya melihat penyelenggaraan American Idol ini dari tahun ke tahun. Ganjalannya adalah : mengapa mata bisa lebih dominan daripada telinga dalam menentukan seorang penyanyi terbaik. 

Hampir semua manusia diciptakan memiliki panca indera. Penglihatan, Penciuman, Pengecapan, Pendengaran dan Peraba. Masing-masing tentunya memiliki fungsi yang bisa jadi dominan pada saat-saat tertentu. Mata akan dominan bekerja bila kita melihat tontonan atau membaca sedangkan Telinga akan sangat dominan kegunaannya apabila kita mendengarkan lagu atau nyayian seseorang (sehingga kita bisa menilai sumbang atau tidaknya suara penyanyi tersebut).

Dominasi suatu indra kita terkadang tidak sesuai untuk peristiwa yang ada. Kita menutup telinga tapi membuka mata saat kita sedang kena marah atau makian dari orang lain. Kita menutup mata tapi membuka telinga saat ada tontonan yang mengerikan di depan kita. Respon yang salah ini terjadi setiap American Idol digelar. (Bahkan di Amerika) Komentar dan pilihan penonton seringkali tidak mengandung korelasi dengan tujuan acara ini yang mencari bakat-bakat penyanyi.

Dengan setting stage yang elegan dan tidak terlalu glamour menurut saya, tentunya harapan penyelenggara sudah terbaca. Setting yang simple diharapkan terlihat megah dengan penampilan penyanyi dengan suara yang mampu menyihir. Hal ini ditambah dengan kostum yang seringkali terlihat simpel. Mencari Penyanyi bukan Pesohor (seperti pernah Randy Jackson bilang : Singing Contest not Popularity Contest). 

Tahun 2009 yang lalu pada session ke 8, salah satu kontestan Adam Lambert diunggulkan oleh semua juri dan sebagian pemirsanya. Tehnik vokal yang benar-benar bagus dengan pencapaian nada-nada tinggi yang tidak biasa ditambah penampilannya yang selalu menghibur menjadi andalannya. Dalam salah satu penampilannya dia bahkan mendapat standing ovation dari Simon Cowelll salah satu juri yang sangat pelit dalam memuji. Randy Jacksonpun memberikan komentar Adam Lambertlah peserta American Idol terbaik dari penyelenggaraan selama ini.

Berminggu dilewatinya dengan pujian, sayang sekali pada akhirnya Adam Lambert tidak berhasil  menjadi American Idol. Pemenangnya Kriss Allen yang beberapa kali tampil justru dengan celaan terutama dari Simon yang menyebutnya membosankan dan mudah untuk dilupakan. Komentar atas kemenangan Kriss Allen dari beberapa situs antara lain menyebutkan bahwa dia layak menjadi Idol karena cute, hot , Idol paling ganteng yang pernah terpilih. Jarang yang menyebutkan kemenangannya karena suaranya yang lebih baik dari Adam Lambert. Salah satu komentar malah mengatakan untung Kriss Allen yang menang karena Adam Lambert aneh (Adam Lambert sering tampil bak rocker era '80-an dengan maskara).

Cerita tadi baru pada session tahun lalu, belum termasuk session tahun-tahun sebelumnya. Jennifer Hudson pernah gagal justru di babak-babak awal padahal kualitas suaranya sangat diakui. Hudson sendiri justru sekarang merupakan mantan finalis paling terkenal dan paling berprestasi setelah kemenangannya di ajang Oscar dalam drama musikal Dream Girls (akting dan suaranya benar-benar mengagumkan). 

Kesalahan penonton memfungsikan indera ini akhirnya menyebabkan seorang yang pantas menjadi Idol menghadapi nasib yang lain.
Pada American Idol session ini komentar-komentar juripun (ditambah juri tamu yang kadang tidak berkualitas, Victoria Beckham misalnya dan digantinya Paula Abdul dengan Ellen yang komedian) sering aneh-aneh. Kamu kelihatan cantik, kamu kelihatan sexy dan sebagainya sepertinya bukan komentar yang cocok untuk mencari bakat penyanyi. Mungkin apabila kontes ini mencari Penyanyi berpenampilan fisik menarik (seperti Pussycat Dolls Present : The Search for The Next Doll yang syaratnya bisa menyanyi dengan baik dan sexy) komentar-komentar atas penampilan fisik sah-sah saja.  

Apapun ganjalan tersebut bagi saya American Idol memang tetap layak ditunggu baik sebagai hiburan maupun bahan referensi untuk event-event saya selanjutnya.

Sinetron : Pencitraan Indonesia yang Salah

Tulisan ini memang bukan topik baru tetapi sepertinya memang  masih harus dibicarakan dan diadakan perubahan. 

Setiap hari (dari pagi sampai malam) beberapa stasiun televisi Indonesia menayangkan sinetron. Pada promonya produser, artis maupun sutradara selalu mengatakan sinetron mereka berbeda dari sinetron-sinetron yang lain. Kenyataannya hampir semuanya sama, dimana penggambaran hitam dan putih, jahat dan baik sangatlah jelas. 

Sudah berkali-kali ditulis bahwa sinetron Indonesia tidak bermutu, karenanya jenis tontonan ini sangat tidak disarankan untuk dinikmati. Dari segi tema kebanyakan memang tidak menarik, apalagi bila ditonton tiap episodenya lama kelamaan akan membawa kebosanan. Pada detailnya sinetron Indonesia justru semakin parah. Penggambaran seorang pembantu yang berdandan menor (salah satu sinetron pernah menampilkan sosok pembantu yang alisnya tertata rapi dengan make-up yang bagus) salah satunya. Belum lagi sosok orang miskin yang tidak punya apa-apa yang digambarkan secantik Cinta Laura atau Julie Estelle benar-benar tidak mencerminkan realita kehidupan kita. Mungkin di Indonesia ada saja sosok seperti itu, tapi bukankah seharusnya kondisi yang diadopsi adalah kenyataan keseharian kebanyakan dari kita? 

Penikmat sinetron-sinetron ini selain kalangan menengah (kalangan atas tidak pernah diungkapkan sebagai penggemar tontonan ini) dan yang terbanyak adalah kalangan bawah. Penikmat dengan tingkat intelektual yang cukup tentulah bisa memilah-milah mana yang benar mana yang buruk, betapi bagaimana dengan kalangan dengan pendidikan yang kurang atau bahkan anak-anak. Seringkali ditemukan berita bahwa kejahatan atau kecelakaan pada anak saat bermain adalah disebabkan pengaruh sinetron. Kita tentunya harus malu kalau berbicara perilaku masyarakat kita yang buruk karena pengaruh budaya barat yang didapat dari film. Kenyataan penonton film barat (Amerika) sangat sedikit dibandingkan penikmat sinetron.

Sebenarnya saya tidak akan menulis ini apabila seorang teman dari Malaysia tidak bertanya, apakah sinetron (mereka menyebutnya film) menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia? Teman saya benar-benar terhanyut dengan jalan cerita salah satu sinetron Indonesia hingga dia menemukan beberapa kejanggalan.Wajah-wajah (terlalu) muda pengusaha Indonesia, cantik dan bergayanya pembantu dan orang tak punya di Indonesia sampai kejahatan-kejahatan tokoh antagonis dalam sinetron tersebut.

Menurut teman saya bangsa Indonesia sangat tidak bijak bila mengatakan TKI yang bekerja di Malaysia terutama yang berstatus pembantu rumah tangga dikatakan selalu disiksa di Malaysia. Padahal menurutnya Sinetron-sinetron Indonesia menggambarkan kesadisan (yang menurutnya) yang lebih tidak manusiawi daripada berita-berita penganiayaan TKI di Malaysia.

Perlu diketahui bahwa saat ini banyak sinetron Indonesia yang diputar di Malaysia (dan beberapa negara lain) dan sepertinya sama dengan yang diputar di Indonesia sangatlah tidak bermutu.
Sinetron produksi Indonesia memang khas berbeda dengan telenovela, sinema tv India, drama Korea maupun Mandarin. Sayangnya kekhasan tersebut berupa buruknya citra yang ditampilkannya. 

Bagaimanapun juga sinetron sudah menjadi suatu industri yang tidak bisa dianggap remeh di Indoensia. Tiap hari semakin banyak wajah-wajah baru yang muncul di layar tv belum termasuk ratusan lagi yang mengantri tiap hari untuk mengikuti casting. Industri sinetron yang terus berkembang ini sayangnya tidak diikuti dengan perkembangan mutunya. Mengharapkan fatwa haram (sepertinya) produksi dan penayangan sinetron jelas tidak mungkin. Harapan hanya tinggal dialamatkan kepada pelaku-pelaku industri ini untuk benar-benar menjadikan produk-produknya mendidik untuk masyarakat. Yang jelas jadikanlah sinetron suatu pencitraan yang positif bagi Indonesia.