Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 April 2010

Preston Bailey dan Torehan Keglamouran di Asia

Berita Pernikahan Nia Ramadani dan Ardie Bakrie memang banyak menyita perhatian masyarakat pemerhati selebritis Indonesia. 

Pernikahan yang mewah salah satunya terlihat  dari mewahnya dekorasi pernikahannya. Tidak ada berita resmi yang menyebutkan siapa dekorator pesta pernikahan mereka. 

Beberapa tahun yang lalu seorang sepupu Ardie Bakrie - Adinda Bakrie juga menyelenggarakan pesta pernikahan di Indonesia dengan dekorasi yang sangat menawan. Disebut-sebut saat itu dekorator (event designer) yang digunakan adalah Preston Bailey.

Menilik ke dalam website  serta blog-nya (http://www.prestonbailey.com dan http://prestonbailey.blogspot.com), karya - karya Preston Bailey memang bisa membuat kita bermimpi menjadi kliennya. Sentuhan kemewahan yang benar-benar glamour menjadi salah satu cirinya. Preston Bailey bahkan beberapa kali merancang sculpture yang mengagumkan yang menggambarkan sosok burung merak, angsa bahkan anjing pudel. Desain yang benar-benar indah itupun masih diberi sentuhan lighting yang dramatik. Benar-benar karya yang mengagumkan.

Sebelumnya nama Preston Bailey (kecuali kalangan atas Indonesia) mungkin  belum terlalu dikenal di Indonesia. Ternyata sosok ini di kalangan selebritis papan atas dunia (terutama Amerika) menjadi nama pertama yang disebut bila ada pertanyaan siapa event designer yang akan anda hubungi bila anda akan mengadakan sebuah pesta. Sederet nama tersohor di dunia menjadi langganannya. Sebut saja Donald Trump, pasangan Catherine Zeta Jones dan Michael Douglas, Oprah Winfrey, Uma Thurman, Donna Karan, Liza Minnelli, dan tentunya masih banyak lagi.

Menarik untuk diperbincangkan apabila ada orang Indonesia yang menggunakan jasa seorang Preston Bailey. Tentunya dia berasal dari kalangan yang istimewa, mempunyai selera dan pastinya ada sesuatu yang membuat Preston Bailey mau menangani event-nya. Preston Bailey sudah pasti mempunyai tarif yang menjulang, tapi yang penting lagi ada peluang baginya untuk mengembangkan sayapnya. 

Asia mungkin saja menjadi salah satu tempat yang menurutnya akan menjadi pasar yang bagus. Alasannya tentu saja karena budaya pesta (maupun acara-acara lainnya) beberapa negara di Asia memang menarik. Tidak simple, kaya akan warna dan detail yang menarik disamping menyukai kemewahan. Dibandingkan dengan Amerika yang menyukai pesta (pernikahan) yang serba simpel elegan (bahkan pilihan warna dekorasi pernikahan kebanyakan hanya putih), Asia tentunya menjadi tantangan yang menarik. 

Memilih Jakarta sebagai pusat bisnisnya di Asia, Preston Bailey tentunya berharap dapat menorehkan keglamourannya pada setiap event di Asia. Indonesia tentunya mendapat keuntungan, karena dengan berpusat di Indonesia tentunya akan banyak kesempatan  Preston Bailey mengenal Indonesia. Kekayaan dan keunikan Indonesia bukan tidak mungkin dapat menjadi inspirasi bagi karya-karya Preston Bailey. Bukan tidak mungkin suatu saat akan hadir detail ornamen-ornamen khas Indonesia di pesta selebrtis dunia.

Senin, 29 Maret 2010

Barack Obama : Sebuah Kemasan Entertainer

Polemik rencana kedatangan Barack Obama ke Indonesia yang berakhir penundaan cukup banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia. Masyarakat yang sepertinya bosan (asal jangan lupa) dengan berita-berita Century dan kasus-kasus politik dan korupsi dalam negeri yang seperti tak berkesudahan seolah menemukan berita baru yang lebih menarik. Mulai dari masa kecil sampai dengan politik pemerintahannya semuanya dikupas habis. Sekolah Obama waktu kecilpun diberitakan sampai menyiapkan acara seremonial khusus untuk menyambutnya bila mampir ke sekolah tersebut. Belum termasuk demo-demo penolakan kedatangannya, cukup membuat berita-berita di media lebih berwarna.

Saya pribadi tidak lagi tertarik dengan sosok Obama saat ini apalagi kebijakan politiknya yang jauh dari Indonesia (dia bukan orang Indonesia tentunya tidak memikirkan Indonesia). Saya lebih tertarik pada konsep entertaining dari kemunculannya pada saat akan maju menjadi wakil Partai Demokrat di perebutan kursi Presiden Amerika Serikat. Pertarungannya dengan Hillary Clinton seolah panggung hiburan baru yang menarik. Ketika akhirnya terpilih sebagai calon Presiden dari Partai Demokrat, panggung hiburan itu menjadi lebih menarik lagi. 

Tim kemenangan Obama seolah berhasil mengemas jualan mereka (Obama) menjadi sosok  calon pehlawan penyelamat Amerika Serikat. Amerika sendiri yang menjadi barometer entertainment dunia seolah menuntut sosok Presiden yang entertaining. Ditambah dukungan selebritis-selebritis Amerika (yang terkenal dan kita kenal) seolah menjadikan sosok ini benar super star kelas dunia. Pesona Obamapun menjadi lintas negara, karena sejarah kecilnya membawanya ke beberapa negara asal ayah kandungnya, asal ayah tiri dan masa kecilnya (yang kebetulan Indonesia), dan negara adik iparnya.

Kemenangan dan acara Inagurasi pelantikannyapun benar-benar bertabur bintang dengan tampilnya pesohor-pesohor Amerika berikut hiburan-hiburan yang melibatkan artis-artisnya.

Saat ini Obama seolah menjadi tokoh internasional yang banyak menyita perhatian dunia internasional. Tidak hanya kebijakan politiknya saja, tetapi sosoknya sendiri yang memang menjual. Setiap kegiatan sampai dengan keluarganya menjadi sorotan dari seluruh dunia. Sekali lagi tim Obama membuktikan kerja yang bagus, karena Obama tampil bak selebritis dan panggung politiknya bak panggung hiburan yang menarik. Sebuah kemasan yang menarik.

Apapun itu, kemasan yang dibuat seolah menutupi berbagai keburukan dan kejanggalan pemerintahan Obama. Harapannya semoga mereka tidak lupa untuk menampilkan Obama yang lebih berperikemanusiaan dan bersahabat dengan dunia tanpa menimbulkan masalah besar yang baru. 

Rabu, 17 Maret 2010

Pesona Magis Lukisan Ida Bagus Indra

Dalam perjalanan saya mempersiapkan sebuah event tahun lalu di Bali, saya dikenalkan kepada salah satu pelukis yang menurut beberapa sumber karyanya masuk jajaran "most wanted". Ida Bagus Indra atau sering dipanggil IBI.

Sebelumnya saya berkenalan dengan istri IBI (yang kebetulan bernama sama dengan saya) di gallerynya di kawasan Jalan Thamrin - Denpasar. Pada gallerynya yang artistik tersebut dipajang beberapa lukisan IBI. Kesemua lukisan yang terpajang disana mengambil objek wanita yang ditampilkannya dengan sangat indah. Cantik dengan pesona magis. Dari Mbak Arilah  saya tahu objek lukisan IBI adalah dirinya. Obrolan yang berlanjut dengan undangan makan malam di sanggarnya tentu saja saya terima. 

Memasuki sanggarnya (saya lupa daerahnya) yang benar-benar asri, unik dan mistis (saya sempat nongkrong di pinggir kolam renangnya yang menghadap hutan bambu dan tidak terasa bulu kuduk saya berdiri) pastilah terbayang segala inspirasi dapat muncul  disana. 

Mendengar obrolan IBI yang ditimpali sang istri serasa melihat pengantin baru yang menceritakan kisah-kisah roman mereka. Perasaan  cinta sang pelukis terhadap modelnya Inilah yang (menurut saya) membuat penggambaran sosok wanita dalam lukisan-lukisannya begitu hidup. IBI saat itu baru saja meluncurkan karya-karyanya dalam tema Kama Sutra yang sensual tapi indah yang menggambarkan ritual cinta mereka.
  
Diceritakannya pula proses penciptaan lukisannya yang melalui proses ritual keagamaan untuk persiapannya. Sang model yang merasa tidak memiliki bakat menari setelah melalui proses ritual tersebut bisa berubah menjadi seorang penari yang mahir semahir sang pelukis menarikan kuasnya. Itulah yang (menurut saya juga) membuat seolah lukisan tersebut memiliki pesona magis. Mbak Ari bahkan bercerita pada salah satu proses persiapan penciptaan lukisan yang mengambil setting di salah satu pantai keramat, dia sempat benar-benar emosional yang menunjukkan betapa beratnya tugasnya sebagai model (seolah ada kekuatan lain yang mengambil peran).
Obrolan hangat kami ditimpali pula dengan cerita-cerita yang membangkitkan inspirasi, karena selain proses penciptaan yang menarik juga tentang kehidupan yang ternyata tidak mudah. IBI saat memutuskan menjadi pelukis di Australia ditentang oleh keluarganya yang berujung pada penghentian subsidi. Tanpa uang IBI bahkan saat itu bersedia menjual satu lukisannya dengan harga murah hanya untuk makan sekali. Dibantu pengorbanan dan cinta sang istrilah kekuatan  untuk hidup datang dan berujung keberhasilan. Sebuah sumber inspirasi yang indah.

Saat ini kegiatan IBI selain menciptakan karya-karyanya yang indah juga berkeliling dunia mengenalkan karya-karyanya dibantu keahlian sang istri yang mantan Public Relation sebuah hotel ternama di Bali. Saya juga belajar banyak, bagaimana proses eksebisi lukisan di luar negeri terutama Eropa. Persiapan logistik berupa pem-packing-an lukisan, proses asuransi dan sebagainya saat ini tidak banyak dilakukan. Perjalanannya ke luar negeri saat ini hanya membawa beberapa lukisan saja, selebihnya berupa pendokumentasian lukisan dalam format digital. Sesampainya di sana mereka hanya cukup melakukan presentasi dengan menampilkan slide-slide tersebut. 

Sebuah cara yang menarik dan yang pasti mendukung pariwisata Indonesia (dalam hal ini Bali), karena para kolektor yang tertarik rela datang ke Bali hanya untuk mengunjungi gallery dan melakukan transaksi.

Satu lagi sosok yang saya kagumi. Indonesia harus bangga memiliki seorang pelukis seperti IBI ini, karena karya-karyanya menampilkan sosok wanita Indonesia dan kebudayaannya dan justru banyak dikenal dan dibicarakan di luar negeri.
 

Rabu, 10 Maret 2010

Lukisan Toto Sunu : Gambaran Masyarakat Indonesia

Pada salah satu event pameran lukisan yang saya kerjakan yang diikuti oleh beberapa pelukis Indonesia dan asing, saya tersenyum sendiri melihat beberapa karya salah satu pelukis Indonesia. Toto Sunu sang pelukis membuat suasana dinding gallery menjadi bernuansakan keceriaan Indonesia.

Pada lukisan Toto Sunu budaya Indonesia digambarkan menarik penuh keceriaan dengan sosok manusianya yang lucu. Bentuk tubuh manusia pada lukisan Toto Sunu digambarkan tidak proposional antara bentuk kepala yang kecil dengan bentuk badan yang bulat besar. Sekilas kesimpulan yang diambil, sang pelukis ingin menggambarkan manusia-manusia di Indonesia yang gemar  menimbun kesenangan hingga berbadan besar tanpa diimbangi pikiran dan akal yang besar sehingga berkepala kecil.
Mengenal Toto Sunu serasa berbincang dengan sahabat lama, hangat dan menyenangkan (beliau beberapa kali malah menunjukkan trick sulap). Penggambaran manusia pada lukisannya ternyata bukan dimaksudkan menyindir masyarakat kita. Badan yang besar yang lebih besar daripada kepala diibaratkan kesuburan yang berarti kebahagiaan.  Karena penggambaran manusia yang unik ini karya-karyanya sering disebut kelirumologi.

Lukisan-lukisannyapun selalu menggambarkan kebahagiaan dan keceriaan berbalut budaya Indonesia. Sesuatu yang menjadi harapannya. Salah satu lukisannya menggambarkan kerukunan beragama di Indonesia, hal yang sepertinya kurang kita temui saat ini. Kebersamaan pada lukisan bertemakan panen hasil bumi juga benar-benar merupakan cerminan budaya kita yang sebenarnya.

Pada lukisan-lukisannya Toto Sunu banyak menampilkan peran wanita dalam masyarakat kita. Toto Sunu bahkan menggambarkan wanita dengan aktifitas kekinian seperti menjadi wanita karir dan lomba rias yang menggambarkan wanita berlomba-lomba untuk cantik.

Semua karya Toto Sunu menampilkan manusia yang ceria dan selalu tersenyum, karena tidak pernah berpikir untuk berduka. Lukisan-lukisan Toto Sunu seolah mengandung harapan Indonesia yang selalu bersuka dan tidak pernah berduka. Penggambaran Indonesia yang harus kita miliki dan wujudkan.

 

Selasa, 16 Februari 2010

Bejo Wage Suu Pencipta Kehidupan Mini


Pada saat berlangsungnya event Inacraft 2008 (event yang menampilkan produk-produk kerajian yang diklaim sebagai terbesar di Asia Tenggara). Saya melihat salah satu karya unik yang benar-benar membuat saya tertarik. Produk yang ditampilkan sebenarnya hanyalah sebuah papan catur, tetapi yang membuatnya menjadi spesial adalah bidak-bidak catur tersebut menggambarkan kerajaan Mataram. Pion-pion digambarkan sebagai prajurit-prajurit mataran lengkap dengan pakaian khas jawanya. Kuda digambarkan melalui prajurit yang menunggang kuda lumping begitu juga patih-patih dan raja mataram digambarkan dengan menarik.

Pada stand tersebut tidak hanya papan catur tersebut, tetapi berbagai miniatur kehidupan sehari-hari rakyat (khususnya Jawa) ditampilkan lewat patung-patung mungil yang besarnya hanya se-ibu jari. Benar-benar karya yang menarik. Si Artis (saya tidak bisa hanya menyebut pengrajin untuk sebuah karya seindah itu) seperti benar-benar pencipta kehidupan yang pastinya memang mencintai kehidupan itu sendiri.

Dalam persiapan event saya di Bali yang mengenalkan budaya beberapa negara di dunia, saya teringat dengan karya yang menarik tadi. Menurut saya penggambaran budaya Indonesia lewat karya-karya mini tersebut bisa membuat dunia mengenal Indonesia. Saya segera menghubungi nama yang tertera di kartu nama  tersebut. BEJO WAGE SUU The Art of Liping. Dalam perkenalan saya melalui telepon tersebut (saat itu saya di Jakarta dan beliau berada di Solo) saya mengungkapkan maksud dan ekaguman saya. Yang membuat saya sedikit terkejut adalah ungkapan keheranan dan ketidakpercayaannya (meskipun beliau bersedia ikut serta dalam event tersebut). Beliau dalam pembicaraan tadi malah seperti tidak yakin saya telah melihat karyanya.

Di sela-sela kegiatan kami di Bali saya meyempatkan mengobrol dengan beliau dan tertarik dengan latar belakang penciptaan karya-karyanya.  Bejo Wage Suu menciptakan karya mungilnya yang merupakan rekaman memorinya untuk mengingatkan kita budaya keseharian yang pernah kita miliki yang bahkan bisa menjadi cerita generasi penerus kita. Seni Liping (berasal dari kata living dalam bahas Inggris yang karena pengejaan masyarakat sekitarnya berubah menjadi liping).

Penggambaran orang menumbuk padi dengan lesung, mengayak beras, menimba sumur seolah mengingatkan kegiatan keseharian yang sudah kita tinggalkan. Lesung sudah pasti tidak digunakan lagi, Menimba sumur juga sudah tidak perlu, karena pompa air sekarang lebih berperan. Indahnya kehidupan benar-benar tergambarkan dalam karya-karya Seni Liping tersebut. Bila diperhatikanpun hampir sebagian besar karyanya menunjukkan kehidupan interaksi bermasyarakat. Bersepeda berboncengan, menarik becak, menimba air bersama, beberapa contohnya.

Kehidupan mini yang diciptakan Bejo Wage Suu juga tidak datang begitu saja. Kehidupannya yang tidak mudah justru membuatnya kuat. Karya-karyanyapun pernah tidak laku dan akhirnya hanya terjual murah. Peran pameran-pameranlah yang membawa karyanya mulai dikenal dan dihargai lebih baik. 

Harapan terbesarnya adalah menjadikan Seni Liping ini sebagai karya Seni Rupa yang diakui seperti halnya Seni Lukis dan Patung. Bagaimanapun juga melalui event-event terutama yang berkelas Internasional karya-karya Bejo Wage Suu mengenalkan kepada dunia Masyarakat dan Budaya Indonesia yang sebenarnya.

Senin, 15 Februari 2010

Guru, Dedikasi dan Perbuatannya dalam Pembentukan Karakter

Berita mengejutkan datang dari Riau pada akhir Januari 2010 lalu. Sebanyak 1820 orang guru PNS di Riau diadukan ke Polda Riau dengan tuduhan telah melakukan kecurangan dengan memalsukan hasil karya ilmiah dan tanda tangan pejabat berwenang dalam Penetapan Angka Kredit (PAK). 

Hasil karya ilmiah ini merupakan persyaratan sertifikasi guru untuk proses kenaikan pangkat yang harus dikerjakan oleh para guru. Sayangnya para guru tersebut lebih memilih jalan pintas dengan memanfaatkan calo yang kemudian memalsukan pejabat berwenang dalam penetapan PAK guru. 

Para guru tersebut sudah pasti akan diturunkan pangkatnya dan diwajibkan mengembalikan tunjangan pangkat yang telah diterimanya. Karena kasusnya telah sampai ke Polda, maka bukan tidak mungkin hukuman lainnya akan mereka dapat. Belum selesai sampai disini, bahkan saat ini hujatan dari masyarakat seperti tidak henti-hentinya ditujukan kepada mereka.

Dalam media online lokal RiauInfo.com, diberitakan guru-guru tersebut mengalami stress dan beberapa warga Riau menyayangkan pelaporan tersebut. Mereka bahkan menyebutkan bahwa koruptor dan pelaku yang merugikan negara seperti kasus Bank Century saja bisa bebas, sementara seorang guru yang seharusnya mereka hormati malah terancam hukuman.

Menarik juga salah satu tanggapan dari pembaca situs tersebut. Inti dari surat tersebut Guru memang sosok yang (mengambil ungkapan dalam bahasa Jawa) wajib DIGUGU (dipatuhi) dan DITIRU yang karenanya jangan sampai berbuat hal yang mengkhianati profesinya. 

Menarik sekali buat saya, karena sejak kecil saya juga ditanamkan oleh orang tua saya untuk menghormati guru. Menurut kedua orang tua saya guru adalah seorang panutan yang dari teladannya akan membentuk karakter kita sebagai manusia. Pencontohan yang baik dan penghormatan yang baik pula kepada seorang guru akan membuat sifat, tingkah laku dan perbuatan kita selalu berjalan di atas relnya.

Banyak memang guru yang seolah tidak mementingkan diri dan keluarganya dengan hidup sederhana demi dedikasinya terhadap profesi yang bahkan semua agama di dunia menyebutnya mulia.  
Saya tidak mau menjadi seorang penghakim dari suatu kasus yang tidak saya ketahui benar permasalahan dan latar belakangnya. Menurut saya manusia memang tidak pernah luput dari kekhilafan. Hanya satu yang seharusnya dilakukan Meminta Maaf dan Menerima apapun yang menjadi konsekuansinya. Dengan demikian kita semua akan lebih menghargai sosok guru sebagai manusia biasa dengan tanggung jawab besar yang sadar dengan kekurangannya. Bentuk sikap seperti itulah yang nantinya akan membentuk karakter murid-muridnya menjadi pribadi yang berusaha tidak tergoda hal yang merugikan dan bersedia mengakui kesalahannya apabila nantinya berbuat salah dan tidak akan mengulanginya.

Rabu, 10 Februari 2010

SPG dan Pencitraan Positif

Sosok SPG sering kita temui pada setiap event promosi. Keberhasilan promosi suatu produk bisa dikatakan salah satunya merupakan peran SPG. Kehadiran SPG yang berpenampilan menarik memang biasanya dapat mengajak pengunjung untuk mencoba dan tertarik pada produk tersebut. Jadilah berkat SPG tugas marketing produk tersebut dapat lebih ringan.


SPG harus dapat membawakan diri sebagai wakil produk yang ditawarkan, mampu berkomunikasi dengan baik yang menjadi modal untuk dapat menawarkan produk tersebut. Tiap jenis produk sudah pasti harus dicitrakan lewat penampilan dan pembawaan seorang SPG. Produk untuk keluarga dan anak-anak belum tentu cocok untuk ditawarkan oleh SPG yang sudah terbiasa menawarkan produk rokok misalnya.   

Perusahaan yang memposisikan produknya sebagai produk premium yang memiliki pasar menengah ke atas juga sudah pasti mewakilkan produknya kepada SPG yang bisa membawa image tersebut. Good Looking dengan kepribadian yang menarik, terlihat cerdas, mampu berkomunikasi dan mampu membawa diri dengan baik adalah modal yang harus dimiliki oleh SPG untuk produk ini. Tidak jarang beberapa brand terkenal memberikan pendidikan khusus seperti pendidikan kepribadian kepada mereka selain pengetahuan tentang produk tersebut.

Membentuk pencitraan SPG juga termasuk didalamnya adalah pakaian yang dikenakan. SPG untuk produk anak-anak tentunya akan mengenakan pakaian yang simpel dengan pilihan celana sebagai bawahannya. Hal ini dikarenakan SPG produk ini ditugaskan mampu berkomunikas dengan anak-anak yang otomatis harus mau mengikuti gerak mereka. Terasa lucu bila SPG produk ini memakai pakaian yang minim sementara harus jungkir balik menghadapi tingkah polah anak-anak.
Brand-brand otomotif sekarang sepertinya lebih mencitrakan sosok wanita yang berkelas dengan pakaian yang menarik yang tidak terlalu banyak terbuka.


Pencitraan SPG yang positif saat ini membuat banyak wanita-wanita muda terutama yang duduk di bangku kuliah menyukai profesi ini. Sebagai batu loncatan adalah alasan mereka. Semakin kompetitifnya dunia kerja bagi lulusan pendidikan tinggi menjadikan mereka harus memiliki bekal kerja sebelum lulus. Bukan tidak mungkin, karena banyak perusahaan tahu profesi ini menuntut kecerdasan, kemampuan berkomunikasi, membawa diri dan yang pasti menarik. Hal-hal tersebut yang memang pasti dilewati oleh SPG.

Kegiatan dan kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan bagi seorang SPG saat ini sudah dapat diwakilkan oleh agency yang banyak bermunculan. Dengan adanya agency ini para SPG dapat lebih terkontrol kerjanya. Meskipun demikian terdapat juga agency yang tidak baik yang tidak menempatkan sistem yang fair kepada para SPG terutama dalam hal pemberian honor.


Sekali lagi pencitraan SPG saat ini sepertinya sudah agak berubah, karena mereka diharapkan bukan sosok yang hanya menarik, tidak pintar dan menyalahkangunakan pekerjaannya untuk hal-hal negatif. Diantara para SPG sendiri banyak yang saat ini mulai menjauhi pribadi-pribadi negatif untuk masuk kalangan mereka termasuk menghindari produk-produk yang dapat memberikan konotasi negatif bagi mereka.