Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2011

Menapaki Jejak Sriwijaya - Candi Muara Takus Dan Pencarian Pengakuan Akar Kejayaan

Penemuan Cornet De Groot pada tahun 1860 mengangkat nama Candi Muara Takus di kalangan para ahli di dunia saat itu. Candi berbahan batu bata yang saat itu diperkirakan berasal dari zaman Hindu setelah melalui penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Verbeek dan Van Delden diungkapkan sebagai bangunan Buddha.

Melalui penelitian dan pengukuran yang dilakukan J.W. Yzerman pada tahun 1889, candi Muara Takus memiliki luas 1.25 km2 dan dikelilingi dinding tembok seluas 74m x 74m yang terbuat dari batu pasir putih. Hasil dari pengukuran dan penelitian tersebut J.W. Yzerman dengan dibantu IR. Delprat membuat sketsa apa yang ditemukan saat itu dan perkiraan bentuk candi sebenarnya.

Sketsa yang dibuat tersebut mengungkapkan perkiraan luas sebenarnya Candi Muara Takus adalah seluas 9 hektar dengan dugaan terdapat 20 buah stupa. Dalam sketsa tersebut bahkan digambarkan ujung stupa berlapiskan emas setinggi 6m dan terdapat relief di beberapa sisinya. Sayangnya relief tersebut berikut arca singa dan teratai yang diceritakan oleh Cornet De Groot dan peneliti-peneliti sesudahnya saat ini tidak ditemukan lagi.

Pada kompleks candi Muara Takus saat ini terdapat bangunan candi Mahligai, candi Palangka, candi Bungsu, candi Tua dan pagar keliling. Selain itu masih ditemukan pula bangunan-bangunan yang belum diketahui secara pasti kegunannya. Salah satu bangunan diduga merupakan tempat pemandian putri.


Sumber batu bata yang digunakan untuk membangun Candi Muara Takus dibuat dari tanah di desa Pongkai. Batu bata yang telah dibuat semula diangkut dengan menggunakan sampan melalui sungai ke Muara takus. Karena mulai dirasakan berat, maka pengangkutan diubah dengan mengunakan manusia yang dibariskan dan memindahkan batu bata bata tersebut dari tangan ke tangan. Dapatlah dibayangkan banyaknya manusia yang melakukan pekerjaan tersebut mengingat jarak yang harus ditempuh sepanjang 8 km.

Menurut cerita turun temurun candi tersebut dibuat atas permintaan seorang putri dari India yang dibawa ke Muara Takus oleh Datuk Tiga Ahli setelah berlayar ke India. Putri tersebut di kalangan masyarakat dikenal sebagi Putri Reno Wulan atau Putri Induk Dunia. Candi yang dibuat sebagai syarat kerelaannya dibawa ke negeri tersebut. Putri tersebut meminta candi yang dibuat serupa dengan candi di tempat orang tuanya berasal. Mungkin itulah sebabnya candi Muara Takus memiliki kemiripan dengan Candi Acoka (Ashoka) di India.

Fenomena yang pernah terjadi adalah sekelompok gajah dipimpin seekor gajah putih pada malam purnama mendatangi candi dan melakukan posisi seperti sujud abdi menyembah kepada junjungannya. Kawanan gajah berjumlah kurang lebih 30 ekor tersebut kemudian mengelilingi candi Muara Takus. Kejadian yang lama terjadi sebelum pembangunan PLTA Koto Panjang tersebut banyak disaksikan masyarakat sekitar dan menjadi cerita menarik yang disampaikan kepada pengunjung kawasan tersebut. Dikaitkan dengan legenda dan mitologi Budha, gajah digambarkan sebagai salah satu reinkarnasi Budha. Gajah disebutkan juga sebagai simbol dan kendaraan seorang raja. Fenoma yang terjadi tersebut menunjukkan bahwa candi Muara Takus adalah tempat pernah bersemayamnya raja dan ratu kerajaan Budha pada jaman dahulu.

Meskipun masih terjadi silang pendapat tentang kapan didirikannya candi Muara Takus, tetapi peninggalan tertua hasil dari penggalian di sekitar candi ditemukan fragmen perunggu dengan tulisan Nagari yang diperkirakan berasal dari abad VII.


MUARA TAKUS AKAR KERAJAAN SRIWIJAYA

Penemuan Candi Muara Takus sebagai situs agama Budha terbesar di Sumatera dan dikaitkan dengan penemuan terakhir yang merujuk abad VII sebagai saat keberadaannya, memunculkan suatu pendapat baru. Pendapat yang pernah juga dikemukakan oleh J.L. Moens adalah pusat kerajaan Sriwijaya adalah di Muara Takus.

Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera. Pengaruhnya selain di nusantara juga memiliki kekuasaan di banyak wilayah di Asia Tenggara. Kerajaan ini disebut menjadi pusat perdagangan sekaligus pengendali jalur perdagangan maritim di Selat Malak, Selat Sunda, Laut China Selatan, Laut Jawa dan Selat karimata. Kejayan kerajaan Sriwijaya tersebut diperkirakan pada abad ke VII. Bentuk kerajaan maritim diperkirakan dapat mengakibatkan pusat kerajaan berpindah-pindah. Inilah yang membuat banyaknya silang pendapat dimana pusat kerajaan atau dimana akar mula kerajaan Sriwijaya berada.

Mengacu pada catatan perjalanan I-Tsing yang mengabarkan keberadaan kerajaan Sriwijaya, pernyataan J.L. Moens dapat diyakini. I-Tsing yang seorang biarawan China melakukan perjalanan lewat laut ke India untuk mendapatkan teks agama Budha dalam bahasa Sansekerta. Semasa perjalanannya tersebut ia pernah mengunjungi kerajaan Sriwijaya selama enam bulan pada tahun 671. Selanjutnya pada tahun 685 – 695 I-Tsing tinggal di Sriwijaya.

Dalam catatan yang dibuatnya disebutkan bahwa ibukota Sriwjaya dikelilingi oleh benteng dan didiami oleh lebih dari 1000 orang Bhiksu. Menurutnya pada bulan ke delapan bayangan tongkat diwalacakra tidak menjadi lebih panjang atau pendek dan pada tengah hari orang berdiri tanpa bayangan.

Keberadaan Muara Takus yang terletak di daerah garis katulistiwa dirasakan cocok dengan catatan I-Tsing. Selain itu benteng yang disebutkan juga sama dengan kondisi candi yang dikelilingi tembok yang terbuat dari batu bata pasir putih. Bangunan candi yang biasanya diperuntukkan bagi upacara keagamaan dan tempat berkumpul Bhiksu yang jumlahnya bisa jadi lebih dari 1000 orang.

Beberapa penemuan seperti prasasti dan situs lainnya yang terdapat di banyak daerah di Sumatera memang memunculkan klaim dari daerah-daerah tersebut sebagai pusat kerajaan Sriwijaya. Fakta yang ada tidak ditemukannya peninggalan kerajaan Sriwijaya sebesar Candi Muara Takus dan berumur lebih tua di daerah lain tersebut dapat menjadi satu pedoman.

Selain itu menurut seorang tokoh budayawan Kampar, Drs. Abdul Latif Hasyim yang melakukan penelitian independen menyebutkan bahwa peninggalan-peninggalan di beberapa wilayah di Sumatera justru mengarah ke kondisi, budaya dan kebiasaan yang ada di Kampar atau Muara Takus.
Salah satu keraguan Muara Takus sebagai pusat kerajaan Sriwijaya yang masih muncul adalah bahwa Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang kekuatan armadanya bahkan berjaya menguasai kawasan Asia Tenggara. Tentu tidaklah mungkin kerajaan maritim berada di tepi sungai yang sebuah kapal sedangpun tidak mungkin berlabuh disana.

Penemuan sebuah dayung besar yang biasanya digunakan pada sebuah kapal besar pada jaman dahulu membersitkan keyakinan baru. Penemuan berikutnya berupa kompas kuno dari bambu yang diperkirakan serupa dengan kompas tertua yang ditemukan di Cina. Kompas pada jaman dahulu hanya digunakan oleh bangsa-bangsa penjelajah samudera.

Dua belas abad yang lalu diperkirakan muara sungai Kampar Kanan terletak jauh ke Barat dari tempatnya sekarang. Teori fenomena alam yang merubah laut menjadi endapan dan daratan pada ratusan tahun lalu mengemuka, terutama setelah ditemukan sumur dengan sumber air berkadar garam serupa air laut di kawasan sekitar candi Muara Takus.

EKSPLORASI CANDI MUARA TAKUS UNTUK MENGUNGKAP MISTERI

Mendukung pendapat dan teori keberadaan candi Muara Takus dan hubungannya dengan kerajaan Sriwijaya tentulah diperlukan penelitian yang lebih mendalam. Peneliti independen yang juga seorang tokoh budayawan Kampar, Drs. Abdul Latif Hasyim mengharapkan bantuan dan peran tidak saja dari Pemerintah Indonesia tetapi bahkan lembaga dunia seperti Unesco.
harapan penggalian untuk mengungkap misteri

Abdul Latif dalam salah satu kesempatan forum seminar di Yogyakarta yang dihadiri oleh kalangan ilmuwan dan akademisi, mempresentasikan keyakinannya tentang akar kerajaan Sriwijaya di Muara Takus. Presentasi yang mendapatkan sambutan bagus tersebut membersitkan keinginan dari kalangan ilmuwan pada saat itu untuk membuat suatu kajian ilmiah dengan mengundang kalangan peneliti nasional dan internasional. Sayangnya kami (Pemerintah Kabupaten Kampar) belum dapat melaksanakan karena terbentur dengan kondisi pendanaan.


Selain itu diutarakannya keinginan untuk mengusahakan candi Muara Takus sebagai Warisan Dunia yang diakui oleh Unesco. Tentunya dengan jalan itu penelitian, eksplorasi dan pemeliharaannya menjadi tanggung jawab dunia selain masyarakatnya sendiri. Dalam beberapa waktu yang berbeda beberapa paranormal dari beberapa daerah di Indonesia menyatakan penggalian ke dalam tanah candi Muara Takus perlu dilakukan. Selain kekayaan yang dapat ditemukan dipercaya bangunan candi Muara Takus tersebut berupa 8 tingkat. Hal ini hampir sama dengan sketsa perkiraan yang dibuat J.W. Yzerman dan IR. Delprat.
penemuan di lahan sawit penduduk, diperkirakan sebagai pelataran

Eksplorasi juga memungkinkan munculnya bukti-bukti baru yang dapat mengungkap misteri keberadaan dan kejayaan Sriwijaya yang sebenarnya. Sejarah mungkin akan diluruskan dan bukan tidak mungkin kejayaan yang dulu dimiliki dapat diraih kembali. Bukan tidak mungkin kebanggaan Indonesia sebagai pusat kekuatan di dunia internasional akan bertambah Harapan yang juga muncul dari Bupati Kampar H. Burhanudin Hussein yang selain ingin mengangkat candi Muara Takus untuk lebih dikenal juga mengajak generasi muda pada khususnya untuk mencintai sejarah.

Tulisan ini oleh-oleh dari PWI Tour 2011 dan dimuat di RiauInfo.com 
http://riauinfo.com/main/news.php?c=8&id=13642

Minggu, 01 Agustus 2010

Era Digital dan Pelestarian Budaya Indonesia

Pengalaman berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia, mengenal beraneka seni dan kebudayaannya benar-benar membuat saya kagum pada Bangsa ini.

Sayangnya banyak seni dan budaya kita yang saat ini sudah tidak orisinil lagi, bahkan banyak pula hasil seni budaya yang telah hilang. Kesadaran kita terutama generasi muda untuk mencintai apalagi menggali potensi yang ada perlu diakui tidaklah besar. Jangankan mencoba mengenal dan mencintai produk seni budaya seluruh daerah-daerah di Indonesia, mengenal kekayaan daerah kita sendiri saja mungkin belumlah cukup.
Tanpa perlu mencari-cari sumber kesalahan, beberapa faktor mungkin bisa menjadi alasan. Salah satunya adalah kurangnya literatur tentang seni budaya kita yang terkemas secara menarik. Kemasan yang menarik dirasakan perlu untuk menarik minat penikmat terutama dari kalangan generasi muda. 

Era modern yang juga era serba digital saat ini haruslah menjadi suatu momentum penting kebangkitan budaya-budaya yang kita miliki. Perlu bagi kita untuk membuat suatu dokumen tentang budaya (termasuk seni di dalamnya) dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Pemanfaatan teknologi dalam pelestarian budaya Indonesia ini tentunya sangat berarti untuk mencegah punahnya kekayaan budaya yang kita miliki. Kita dapat mengetahui langkah-langkah mempersiapkan suatu upacara suku tertentu juga dapat mengetahui setiap gerakan tarian-tarian di Indonesia.
Kesimpulan yang utama adalah, era digital ini adalah suatu masa dimana kita dituntut untuk memberikan warisan yang tiada taranya bagi perkembangan budaya anak cucu kita nantinya.

Selasa, 22 Juni 2010

Indonesia Mencari Bakat - Bakat Indonesia Itu Memang Ada

Mungkin tulisan ini dianggap terlambat, tetapi menurut saya program andalan TransTV ini memang layak untuk diapresiasi. Alasan kuat saya menulis Indonesia Mencari Bakat ini karena pada hari Minggu tanggal 20 Juni kemarin adalah sesuatu yang membuat saya kagum dengan keanekaragaman bakat-bakat anak muda Indonesia. 

Keragaman yang sangat mengagumkan dari para Peserta pada episode tersebut sampai membawa para Juri kesulitan menentukan siapa bakat yang belum merupakan pilihan. Tiga terbawah dari segi popularitas memang cukup mengejutkan : Rumingkang dan Putri Ayu diantaranya selain JP Millenix yang sudah kedua kalinya berada pada posisi ini.

Sarah Sechan sempat berkomentar bahwa mereka terjebak pada pada posisi susah. Memilih JP seperti bukan pilihan yang tepat, karena selain usia yang sangat muda JP juga terus mengeksplor potensi dan bakat terpendam lain dari dirinya sehingga menambah banyak nilai plus buat performance-nya. Memulangkan Putri Ayu juga bukan hal yang mudah, karena talenta yang dimilikinya sepertinya lumayan susah dicari di Indonesia. Rumingkang yang membawa kesenian tari tradisional dengan koregrafi yang apik sehingga memikat untuk dinikmati juga tidak layak untuk disingkirkan. Khusus Rumingkang bahkan juri seolah terjebak dengan ketakutan dicap tidak cinta budaya Indonesia bila memilih mereka sebagai yang tidak berbakat. 

IMB berbeda dengan pemilihan-pemilihan bakat yang ada di Indonesia yang hanya mengandalkan popularitas saja. Seringkali polling sms lebih menentukan daripada bakat itu sendiri. Terus terang mungkin pemirsa kontes-kontes ini belum dewasa dalam menentukan mana yang layak untuk menjadi yang berbakat.

Dalam IMB dari penentuan polling sms didapat tiga terendah yang selanjutnya ditentukan oleh jJuri mana yang belum menjadi bakat pilihan. Konsep seperti ini jelas lebih fair, karena juri IMB berlatar belakang profesional-profesional yang memang berpengalaman dalam bidang hiburan (jelas berbeda dengan masyarakat biasa yang yang memiliki aneka latar belakang).

Melihat IMB pertama kali mengingatkan saya pada referensi teman untuk menonton rekaman Britain's Got Talent. Membawa konsep yang sama, Indonesia jelas lebih unggul. Beragam seni budaya tereksplor menjadi sebuah bakat yang sangat layak untuk ditampilkan. Peserta seperti Rumingkang, Berto, Belda (yang beberapa kali memadukan budaya Indonesia dengan fire dance-nya) mungkin hanya sedikit bakat asli Indonesia yang dapat tampil di IMB.  

Di session depan harapannya akan muncul bakat-bakat yang asli Indonesia. Ini tidaklah mengada-ada, karena bakat itu memang ada. Berbagai macam tarian, musik, nyanyian dan atraksi-atraksi budaya lainnya dimiliki Indonesia. Tanpa mengecilkan bakat lainnya, bakat-bakat berseni budaya asli Indonesia inilah yang harus lebih banyak dikenalkan terutama kepada generasi muda Indonesia.

Rabu, 17 Maret 2010

Remy Silado

Sebagai persiapan peringatan 60 tahun Hubungan (bilateral) Indonesia - China dimulai tahun lalu kami mempersiapkan rangkaian event yang akan dilaksanakan sepanjang 2010 dan dimulai pada 13 April 2010. Rangkaian kegiatan tersebut akan diselenggarakan di China (rencana awal di Beijing) dan Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang dan beberapa kota yang akan ditentukan kemudian). 

Salah satu konsep yang saya ajukan adalah apresiasi terhadap pengarang-pengarang Indonesia dan China yang membantu menggambarkan hubungan Indonesia - China dalam karya-karyanya. Salah satu tokoh yang saya nominasikan adalah Remy Silado. Lewat (salah satu) karyanya Ca-Bau-Kan, Remy Silado menggambarkan budaya Indonesia dan pengaruh China yang melebur menjadi satu budaya yang menarik.

Ca-Bau-Kan menceritakan perjalan hidup dan cinta Siti Noerhaijati soorang wanita betawi yang kerap dipanggil Tinung. Dia adalah seorang Ca-Bau-Kan yang pekerjaannya "menghibur" orang Tionghoa pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Cintanya kepada Tan Peng Liang seorang pedagang candu dan tembakau yang peranakan China (Tionghoa) dari Semarang. Berbagai rintangan dan halangan mereka lewati seperti perbedaan ras, status sosial, kedatangan pasukan Jepang dan perang kemerdekaan Indonesia. Cerita berakhir dengan tetap kuatnya cinta mereka sampai kematian mendatangi mereka.

Remy Silado dilahirkan di Makasar tanggal 12 Juli 1945 dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Semarang dan Solo. Karirnya dimulai di Semarang sebagai wartawan majalah Tempo. Pengalaman tinggal di Semarang inilah yang mungkin menjadi inspirasi Ca Bau Kan yang berlatar budaya China-Semarang. Bahasa dan dialek China Semarang yang mencampurkan bahasa Indonesia dan Jawa menciptakan aksen China-Indonesia-Jawa yang unik.

Remy Silado menulis berbagai karya sastra selain novel dan juga dikenal sebagai pelukis dan seorang dramawan.  Remy juga terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Berbagai penghargaan di bidang kesusastraan pernah diraihnya.

Dalam karya-karya sastranya Remy Silado seringkali mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang digunakan. Inilah yang membuat karya-karyanya unik dan istimewa. Selain itu Remmy Silado selalu melakukan riset yang mendalam disamping kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Rasanya tidaklah berlebihan pilihan saya.

Rabu, 10 Maret 2010

Lukisan Toto Sunu : Gambaran Masyarakat Indonesia

Pada salah satu event pameran lukisan yang saya kerjakan yang diikuti oleh beberapa pelukis Indonesia dan asing, saya tersenyum sendiri melihat beberapa karya salah satu pelukis Indonesia. Toto Sunu sang pelukis membuat suasana dinding gallery menjadi bernuansakan keceriaan Indonesia.

Pada lukisan Toto Sunu budaya Indonesia digambarkan menarik penuh keceriaan dengan sosok manusianya yang lucu. Bentuk tubuh manusia pada lukisan Toto Sunu digambarkan tidak proposional antara bentuk kepala yang kecil dengan bentuk badan yang bulat besar. Sekilas kesimpulan yang diambil, sang pelukis ingin menggambarkan manusia-manusia di Indonesia yang gemar  menimbun kesenangan hingga berbadan besar tanpa diimbangi pikiran dan akal yang besar sehingga berkepala kecil.
Mengenal Toto Sunu serasa berbincang dengan sahabat lama, hangat dan menyenangkan (beliau beberapa kali malah menunjukkan trick sulap). Penggambaran manusia pada lukisannya ternyata bukan dimaksudkan menyindir masyarakat kita. Badan yang besar yang lebih besar daripada kepala diibaratkan kesuburan yang berarti kebahagiaan.  Karena penggambaran manusia yang unik ini karya-karyanya sering disebut kelirumologi.

Lukisan-lukisannyapun selalu menggambarkan kebahagiaan dan keceriaan berbalut budaya Indonesia. Sesuatu yang menjadi harapannya. Salah satu lukisannya menggambarkan kerukunan beragama di Indonesia, hal yang sepertinya kurang kita temui saat ini. Kebersamaan pada lukisan bertemakan panen hasil bumi juga benar-benar merupakan cerminan budaya kita yang sebenarnya.

Pada lukisan-lukisannya Toto Sunu banyak menampilkan peran wanita dalam masyarakat kita. Toto Sunu bahkan menggambarkan wanita dengan aktifitas kekinian seperti menjadi wanita karir dan lomba rias yang menggambarkan wanita berlomba-lomba untuk cantik.

Semua karya Toto Sunu menampilkan manusia yang ceria dan selalu tersenyum, karena tidak pernah berpikir untuk berduka. Lukisan-lukisan Toto Sunu seolah mengandung harapan Indonesia yang selalu bersuka dan tidak pernah berduka. Penggambaran Indonesia yang harus kita miliki dan wujudkan.

 

Selasa, 16 Februari 2010

Bejo Wage Suu Pencipta Kehidupan Mini


Pada saat berlangsungnya event Inacraft 2008 (event yang menampilkan produk-produk kerajian yang diklaim sebagai terbesar di Asia Tenggara). Saya melihat salah satu karya unik yang benar-benar membuat saya tertarik. Produk yang ditampilkan sebenarnya hanyalah sebuah papan catur, tetapi yang membuatnya menjadi spesial adalah bidak-bidak catur tersebut menggambarkan kerajaan Mataram. Pion-pion digambarkan sebagai prajurit-prajurit mataran lengkap dengan pakaian khas jawanya. Kuda digambarkan melalui prajurit yang menunggang kuda lumping begitu juga patih-patih dan raja mataram digambarkan dengan menarik.

Pada stand tersebut tidak hanya papan catur tersebut, tetapi berbagai miniatur kehidupan sehari-hari rakyat (khususnya Jawa) ditampilkan lewat patung-patung mungil yang besarnya hanya se-ibu jari. Benar-benar karya yang menarik. Si Artis (saya tidak bisa hanya menyebut pengrajin untuk sebuah karya seindah itu) seperti benar-benar pencipta kehidupan yang pastinya memang mencintai kehidupan itu sendiri.

Dalam persiapan event saya di Bali yang mengenalkan budaya beberapa negara di dunia, saya teringat dengan karya yang menarik tadi. Menurut saya penggambaran budaya Indonesia lewat karya-karya mini tersebut bisa membuat dunia mengenal Indonesia. Saya segera menghubungi nama yang tertera di kartu nama  tersebut. BEJO WAGE SUU The Art of Liping. Dalam perkenalan saya melalui telepon tersebut (saat itu saya di Jakarta dan beliau berada di Solo) saya mengungkapkan maksud dan ekaguman saya. Yang membuat saya sedikit terkejut adalah ungkapan keheranan dan ketidakpercayaannya (meskipun beliau bersedia ikut serta dalam event tersebut). Beliau dalam pembicaraan tadi malah seperti tidak yakin saya telah melihat karyanya.

Di sela-sela kegiatan kami di Bali saya meyempatkan mengobrol dengan beliau dan tertarik dengan latar belakang penciptaan karya-karyanya.  Bejo Wage Suu menciptakan karya mungilnya yang merupakan rekaman memorinya untuk mengingatkan kita budaya keseharian yang pernah kita miliki yang bahkan bisa menjadi cerita generasi penerus kita. Seni Liping (berasal dari kata living dalam bahas Inggris yang karena pengejaan masyarakat sekitarnya berubah menjadi liping).

Penggambaran orang menumbuk padi dengan lesung, mengayak beras, menimba sumur seolah mengingatkan kegiatan keseharian yang sudah kita tinggalkan. Lesung sudah pasti tidak digunakan lagi, Menimba sumur juga sudah tidak perlu, karena pompa air sekarang lebih berperan. Indahnya kehidupan benar-benar tergambarkan dalam karya-karya Seni Liping tersebut. Bila diperhatikanpun hampir sebagian besar karyanya menunjukkan kehidupan interaksi bermasyarakat. Bersepeda berboncengan, menarik becak, menimba air bersama, beberapa contohnya.

Kehidupan mini yang diciptakan Bejo Wage Suu juga tidak datang begitu saja. Kehidupannya yang tidak mudah justru membuatnya kuat. Karya-karyanyapun pernah tidak laku dan akhirnya hanya terjual murah. Peran pameran-pameranlah yang membawa karyanya mulai dikenal dan dihargai lebih baik. 

Harapan terbesarnya adalah menjadikan Seni Liping ini sebagai karya Seni Rupa yang diakui seperti halnya Seni Lukis dan Patung. Bagaimanapun juga melalui event-event terutama yang berkelas Internasional karya-karya Bejo Wage Suu mengenalkan kepada dunia Masyarakat dan Budaya Indonesia yang sebenarnya.

Senin, 15 Februari 2010

Film INVICTUS : Promosi Batik Mandela

Beberapa hari belakangan ini saya selalu menyempatkan menonton film-film yang masuk ke dalam nominasi calon peraih Oscar (Academy Award tahun ini mengumumkan 10 film calon Film Terbaik 2010). Tujuannya jelas selain mengapresiasi juga mencoba mendapat inspirasi yang menarik.

Enam film dari sepuluh nominator tersebut sudah saya tonton dengan kesan dan inspirasi yang berbeda setiap selesai menontonnya.

Invictus salah satu film yang menggoda saya, bukan saja karena aktor-aktornya yang saya kagumi (Morgan Freeman dan Matt Damon biasanya jaminan sebuah film bermutu) atau Clint Eastwood (yang memang sudah menjadi jaminan film berkelas Oscar), tetapi lebih disebabkan tokoh Nelson Mandela yang memang inspiratif.

Saya tidak akan membahas isi film tersebut, yang akan saya bicarakan adalah Nelson Mandela (atau Mandiba menurut pendukung-pendukungnya) yang merupakan sosok tokoh dunia yang berasal dari Afrika menampilkan Batik sebagai busana yang sangat digemarinya. Dalam Invictus beberapa scene memperlihatkan Mandela menggunakan batik yang sepertinya memang jenis pakaian yang sangat digemarinya dalam kesehariannya (dalam salah satu scene Mandela mengenakannya saat berkumpul dengan anak dan cucu-cucunya).

Seperti telah kita ketahui bahwa Nelson Mandela memang sangat menggemari batik dan pada beberapa kunjungannya (baik saat masih menjadi Presiden Afrika Selatan maupun setelah pensiun) batik merupakan salah satu pakaian yang dikenakannya. Belakangan malah muncul istilah Mandela's wear untuk menyebutkan pakaian Batik. 
Batik seperti telah kita ketahui juga sudah disahkan oleh Unesco sebagai warisan budaya asal Indonesia. Tugas kita untuk terus mengenalkan dan menduniakan Batik agar lebih dikenal dan dihargai lagi. Peran tokoh-tokoh nasional terutama di dunia Internasional perlu ditingkatkan dalam hal kecintaan terhadap batik. Menjadikan batik untuk busana formalpun bisa sebagai contoh lebih mengenalkan Batik. 

Presiden pertama kita Soekarno pernah dikenal dengan style yang disebut Soekarno Look pada jamannya (jas dan celana putih berikut peci dan kacamata hitam). Setelah era itu tidak ada lagi  Pemimpin dan tokoh Indonesia yang tampil di tingkat dunia mempunyai style sendiri. 

Sudah saatnya muncul figur-figur Indonesia yang mendunia yang mempunyai style sendiri dan dapat mengenalkan batik Indonesia menjadi lebih dikenal lagi. Bila tidak ada tokoh dunia dari Indonesia yang memenuhi hal tersebut mungkin menjadikan Nelson Mandela sebagai Icon Batik Internasional adalah jalan yang baik. Perlu diingat dengan Nelson Mandela sebagai batik, dunia akan mengenal batik sebagai busana khas South Africa dari Indonesia. Lebih parah lagi apabila Batik dikenal sebagai produk budaya Indonesia yang tidak dicintai bangsanya. Sekali lagi pilihan tergantung kita.