Tampilkan postingan dengan label MICE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MICE. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Mei 2010

Stand Contractor dan Design untuk Cerminan Sebuah Produk

Sebuah produk untuk lebih dikenal haruslah melakukan promosi yang baik. Salah satu bentuk promosi yang sering dilakukan adalah dengan menggelar sebuah pameran. Penyelenggaraan pameran biasanya memang bertujuan untuk membangun brand (terutama untuk produk-produk yang baru diluncurkan) dan penjualan langsung.

Saat ini semakin banyak jumlah perusahaan penyelenggara pameran yang memang sangat membantu perusahaan (produsen suatu produk) untuk mencapai tujuan mengenalkan dan menjual produknya. Indonesia bolehlah berbangga karena beberapa pameran yang diselenggarakan sudah dikenal hingga ke manca negara. Skala yang besar ataupun unsur tematik yang ditawarkanlah yang menjadikan beberapa event pameran Indonesia sangatlah menarik dan ditunggu untuk program annual-nya.

Perkembangan kegiatan pameran di Indonesia memunculkan sebuah bidang usaha yang telah dikenal sebelumnya untuk ikut berkembang . Stand Contractor membantu pengusaha atau produsen sebuah produk untuk maksimal membangun brand-nya melalui design stand yang menarik dan benar-benar dapat mencerminkan produk mereka.


Stand Contractor yang profesional mampu mengimplimentasikan potensi produk ke dalam design yang benar-benar sesuai. Design sebuah stand produk otomotif tentulah tidak bisa disamakan dengan design sebuah stand komestik. Pemilihan warna lembut tentulah juga tidak cocok dengan produk alat berat. Belum lagi masalah detail. Perusahaan otomotif untuk kelas atas tentu akan lebih cocok dengan design simpel yang elegan dengan warna yang kuat. Bandingkan dengan design produk fashion yang memungkinkan diberikan detail-detail yang artistik.

Selain itu Profesional Stand Contractor dituntut untuk dapat mengestimasikan biaya dan waktu yang tepat untuk mewujudkan design yang menarik. Perlu pula dipertimbangkan untuk mencermati design yang sedang disukai oleh penikmat pameran. 

Untuk mempertajam kemampuan para Stand Contractor tersebut diperlukan pelatihan-pelatihan yang melatih kepekaan dan menambah wawasan yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan para produsen untuk menampilkan cerminan produk yang tepat.

Jumat, 05 Maret 2010

Insentif pada MICE : Unsur yang Belum Berkembang

Seperti kita ketahui kegiatan MICE mengandung unsur (M)eeting, (I)ncentive, (C)onference dan (E)xbhition. Dari keempat kegiatan tersebut rasanya hanya Insentif saja yang belum banyak berkembang di Indonesia. 

Insentif berarti suatu bonus yang diberikan oleh suatu Perusahaan atau Lembaga kepada karyawan atau anggotanya sebagai bentuk apresiasi atas peningkatan atau pemaksimalan kerjanya. Misalnya seorang karyawan bagian pemasaran menerima Insentif karena prestasinya melampaui target penjualan yang telah ditetapkan Perusahaan. Insentif dalam MICE disini diartikan sebagai bonus berupa paket perjalanan ke suatu negara, kota atau daerah yang memang terkenal dan menjadi impian setiap orang.

Daerah wisata tujuan favorit pemberian insentif di Indonesia adalah Bali. Tidak hanya perusahaan-perusahaan di Indonesia saja yang memilih Bali untuk iming-iming pemberian insentif bagi karyawannya, tapi juga banyak perusahaan atau lembaga internasional di dunia. Tujuan wisata insentif lainnya adalah Jogja. Sebenarnya banyak perusahaan atau lembaga di Indonesia lebih banyak memberikan bonus perjalanan ke luar negeri. 

Bisnis meeting dan conference (bahkan exhibition) mulai merambah hingga ke tingkat kabupaten, dimana hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya hotel yang melengkapi fasilitasnya dengan ruangan untuk conference & meeting dengan kapasitas yang lumayan besar. Beberapa kabupaten bahkan sudah berani mengadakan kegiatan-kegiatan tingkat nasional. Sayangnya untuk insentif masih banyak yang belum berhasil membuat daerahnya menjadi tujuan wisata insentif.

Kunci utama semuanya adalah masalah promosi yang belum maksimal. Dalam hal kegiatan wisata insentif dengan tujuan daerah-daerah di Indonesia, diharapkan peran biro/agen perjalanan untuk lebih kreatif lagi. Salah satu bentuk kekreatifan tersebut misalnya membuat paket wisata ke daerah-daerah di Indonesia dengan mengajak salah satu tokoh atau selebritis untuk ikut serta. Dengan contoh penawaran program seperti itulah seorang karyawan dapat bangga dengan pemberian insentif atas pencapaian kerjanya. Peran perusahaan juga sangatlah penting untuk mengangkat wisata insentif daerah-daerah di Indonesia lebih dikenal lagi.

Membanggakan rasanya apabila suatu saat pegawai-pegawai di luar negeri berlomba-lomba meningkatkan prestasi kerjanya agar dapat memperoleh insentif berupa wisata ke Indonesia.

Rabu, 03 Maret 2010

Ir. Soekarno - Bapak MICE Indonesia

Suatu kali pernah terjadi perdebatan seru antara saya dan teman saya mengenai siapa Bapak MICE Indonesia. Teman saya memilih Ali Sadikin karena menurutnya Pekan Raya Jakarta yang merupakan event eksebisi terbesar pertama di Indonesia lahir atas ide dan pemikiran beliau. Ali Sadikin bahkan melakukan riset hingga ke Jerman sehingga digelarnya event tersebut pada tahun 1968. Menurut teman saya pembentukan organisasi pengelola PRJ bahkan perkembangannya terus dipantau oleh Beliau. 

Saya  memilih Ir. Soekarno sebagai Bapak MICE Indonesia, karena beliaulah yang mewujudkan event internasional pertama di Indonesia: Konferensi Asia Afrika. Menurut saya tidak berlebihan (dan bukan karena kebetulan saat itu saya bekerja di Asia Africa Foundation) bila  Ir. Soekarno layak bergelar Bapak MICE Indonesia. Atas peran beliaulah Konferensi Asia Afrika sukses menghadirkan Peserta dari negara-negara Asia Afrika yang masing-masing delegasinya selain terdiri dari Pemimpin Negara juga anggota-anggota lainnya.

Saat itu Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mewakili Indonesia akan menghadiri undangan Konferensi Lima Negara di Kolombo. Bung Karno berpesan untuk membuat Konferensi yang dihadiri seluruh negara di Asia Afrika. Kenginan dan pemikiran Bung Karno ini diutarakan dalam Konferensi Kolombo tersebut yang dihadiri oleh negara India, Pakistan, Sri lanka dan Burma.

Menuruti keinginan Bung Karno pulalah Ali Sastroamidjojo mengirimkan undangan, meyakinkan dan memastikan agar Pemimpin-pemimpin negara-negara Asia Afrika dapat hadir. Sebanyak 25 negara diundang. Saat itu bahkan banyak negara yang masih berada di bawah bayang-banyang bekas penjajahnya.

Sebagai persiapan pelaksanaan event tersebut, Bung Karno mengganti nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka. Beliau bahkan sempat menginginkan merubah interior Gedung Merdeka. Mendekati pelaksanaan event tersebut Bung Karno menyempatkan meninjau persiapan-persiapannya meliputi :
akomodasi, logistik, transport, kesehatan, komunikasi, keamanan, hiburan, protokol, penerangan, dan lain-lain. Hotel Homann dan Hotel Preanger termasuk diantaranya yang Beliau tinjau karena termasuk hotel-hotel yang dipersiapkan sebagai tempat menginap para tamu yang berjumlah 1300 orang. Menurut salah satu sumber yang saya baca keperluan transport dilayani oleh 143 mobil, 30 taksi, 20 bus, dengan jumlah 230 orang sopir dan 350 ton bensin tiap hari serta cadangan 175 ton bensin. Tiap detail seolah tidak luput dari pengamatan Beliau.

Akhirnya Konferensi Asia Afrika sukses terselenggara yang tidak saja karena materi dan hasil konferensi yang akhirnya menginspirasi negara-negara Asia Afrika (banyak negara di Asia dan Afrika yang menuntut kemerdekaannya setelah konferensi ini), tetapi juga karena penyelenggaraan yang terkoordinasi dengan baik. Sukses penyelenggaraan event inilah yang memacu bermunculannya Konferensi tingkat Internasional di Indonesia.

Selain Konferensi Asia Afrika tahun 1955 masih banyak lagi event-event akbar berskala internasional yang lahir dari pemikiran Beliau. Karenanya (sekali lagi) sebutan Bapak MICE Indonesia tidaklah berlebihan dan layak digelarkan kepada Beliau.

Tulisan dari berbagai sumber :
The Bandung Connection (Roeslan Abdulgani), Yth. Ibu Wati Knapp (putri Bapak Roeslan Abdulgani)
Yth. Bapak Soejoko (General Secretary of Asia Africa Foundation)

Jogja Expo Center : Pilihan Venue untuk Kegiatan MICE di Yogyakarta

Pada salah satu event  eksebisi yang kami kerjakan di Jogja, pilihan venue kami jatuhkan pada Jogja Expo Center. 

Pertimbangan kami menggunakan venue tersebut lebih disebabkan kapasitas yang kami butuhkan sekitar 8.000 square meter tersedia di salah satu hall di Jogja Expo Center. Fasilitas pendukung lainnya seperti tersedianya Electric Power yang memadai juga tidak mengecewakan.

Dibangunnya Jogja Expo Center tentulah merupakan bukti seriusnya Pemerintah Provinsi D.I Yogyakarta mendukung kegiatan MICE di Yogyakarta. Apalagi Yogyakarta merupakan salah satu daerah tujuan wisata MICE selain Jakarta dan Bali. 

Menempati area seluas 5,4 Ha dengan luas bangunan 17.090 sqm yang terdiri dari :
- Bima Hall : 8.640 sqm (144 x 60)
- Yudhistira Hall : 882 sqm (42 x 21)
- Arjuna Hall : 1.260 sqm (60x21)
- Nakula - Sadewa VIP Room : 90 sqm (6x15)
- Hanoman Room : 144 sqm (8x18)
- Prevention Room : 1.404 sqm (156 x 9)

Salah satu problem utama persiapan kegiatan eksebisi yaitu area untuk loading barang yang mudah terjangkau tersedia di Jogja Expo Center ini. Area parkir bahkan sepertinya muat untuk belasan truk dan beberapa kontainer sekaligus. Jarak antara venue ini dengan pusat kota (Malioboro) kurang lebih hanya berjarak tempuh 15 menit. Untuk event kami yang akan dihadiri peserta dari beberapa negara dan derah di Indonesia bandara juga tidak jauh hanya berkisar 10 menit. Lokasi untuk akomodasi juga tidak terlalu jauh.

Didukung juga oleh SDM yang cukup kooperatif tepatlah rasanya venue ini menjadi pilihan untuk penyelenggaraan event MICE di Yogyakarta.


http://www.jogjaexpocenter.com