Senin, 29 Maret 2010

Barack Obama : Sebuah Kemasan Entertainer

Polemik rencana kedatangan Barack Obama ke Indonesia yang berakhir penundaan cukup banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia. Masyarakat yang sepertinya bosan (asal jangan lupa) dengan berita-berita Century dan kasus-kasus politik dan korupsi dalam negeri yang seperti tak berkesudahan seolah menemukan berita baru yang lebih menarik. Mulai dari masa kecil sampai dengan politik pemerintahannya semuanya dikupas habis. Sekolah Obama waktu kecilpun diberitakan sampai menyiapkan acara seremonial khusus untuk menyambutnya bila mampir ke sekolah tersebut. Belum termasuk demo-demo penolakan kedatangannya, cukup membuat berita-berita di media lebih berwarna.

Saya pribadi tidak lagi tertarik dengan sosok Obama saat ini apalagi kebijakan politiknya yang jauh dari Indonesia (dia bukan orang Indonesia tentunya tidak memikirkan Indonesia). Saya lebih tertarik pada konsep entertaining dari kemunculannya pada saat akan maju menjadi wakil Partai Demokrat di perebutan kursi Presiden Amerika Serikat. Pertarungannya dengan Hillary Clinton seolah panggung hiburan baru yang menarik. Ketika akhirnya terpilih sebagai calon Presiden dari Partai Demokrat, panggung hiburan itu menjadi lebih menarik lagi. 

Tim kemenangan Obama seolah berhasil mengemas jualan mereka (Obama) menjadi sosok  calon pehlawan penyelamat Amerika Serikat. Amerika sendiri yang menjadi barometer entertainment dunia seolah menuntut sosok Presiden yang entertaining. Ditambah dukungan selebritis-selebritis Amerika (yang terkenal dan kita kenal) seolah menjadikan sosok ini benar super star kelas dunia. Pesona Obamapun menjadi lintas negara, karena sejarah kecilnya membawanya ke beberapa negara asal ayah kandungnya, asal ayah tiri dan masa kecilnya (yang kebetulan Indonesia), dan negara adik iparnya.

Kemenangan dan acara Inagurasi pelantikannyapun benar-benar bertabur bintang dengan tampilnya pesohor-pesohor Amerika berikut hiburan-hiburan yang melibatkan artis-artisnya.

Saat ini Obama seolah menjadi tokoh internasional yang banyak menyita perhatian dunia internasional. Tidak hanya kebijakan politiknya saja, tetapi sosoknya sendiri yang memang menjual. Setiap kegiatan sampai dengan keluarganya menjadi sorotan dari seluruh dunia. Sekali lagi tim Obama membuktikan kerja yang bagus, karena Obama tampil bak selebritis dan panggung politiknya bak panggung hiburan yang menarik. Sebuah kemasan yang menarik.

Apapun itu, kemasan yang dibuat seolah menutupi berbagai keburukan dan kejanggalan pemerintahan Obama. Harapannya semoga mereka tidak lupa untuk menampilkan Obama yang lebih berperikemanusiaan dan bersahabat dengan dunia tanpa menimbulkan masalah besar yang baru. 

Kamis, 25 Maret 2010

Kid's Corner - Solusi Orang Tua Menikmati Event

Semakin sadarnya perusahaan atau brand untuk mensosialisasikan dan menanam image pada konsumennya membuat semakin banyaknya event yang terselenggara. Mulai dari peluncuran produk baru, eksebisi sampai gathering menjadi sarana yang bertujuan membangun dan mejaga loyalitas pengguna brand tersebut. 

Sebuah undangan event (apalagi dengan tema dan konsep menarik) tentunya sayang untuk dilewatkan. Masalah timbul apabila orang tua memiliki anak dan kebetulan tidak bisa ditinggalkan. Antara meninggalkan anak di rumah atau tidak menghadiri event yang menarik adalah keputusan yang berat untuk diambil.

Peluang-peluang inilah yang harus dicermati dan diambil oleh penyelenggara sebuah event. Menyediakan Kid's Corner adalah solusi yang rasanya tepat. Solusi seperti ini pernah saya ajukan kepada salah satu klien, memang konsep ini akan menimbulkan biaya baru. Keberatan klien untuk menyediakan budget tambahan cukup disikapi dengan satu argumen. Daripada mengeluarkan budget baru untuk menjaring pelanggan yang tidak bisa datang rasanya pilihan ini lebih hemat. Disamping itu perlu dikemukakan bahwa konsep ini secara tidak langsung dapat sebagai penanaman image suatu brand sejak dini terhadap anak-anak. Dari sisi bisnis dan dilihat dari kacamata manapun konsep ini jelas akan menguntungkan (meskipun saya sangat tidak menganjurkan untuk produk-produk dewasa seperti rokok, minuman berakohol dan sebagainya).

Dalam area Kids Corner selain disediakan berbagai permainan yang menarik bisa juga dibuat aktivitas yang mengasah kreatifitas dan sosialisasi antara anak-anak dalam area tersebut. Misalnya anak diajak untuk mewarnai dengan media yang lain dari yang lain (layang-layang, t-shirt atau miniatur rumah polos) atau permainan kelompok. Beberapa event teman malah menyediakan tempat istirahat untuk balita.

Penyediaan Kid's Corner sendiri sebenarnya bukan konsep yang baru sekali, karena beberapa event sudah menyediakan fasilitas ini. Sebuah Wedding Organizer ternamapun  sudah menyediakan konsep ini pada paket yang ditawarkannya, yang bahkan dilengkapinya dengan penawaran konsep-konsep khusus (cowboy, castle dan lain-lain). 

Sukses penyelenggaraan event berarti membawa kepuasan pelanggan (undangan) dan  diharapkan akan brand memupuk loyalitas mereka. Selain itu anak-anak akan puas juga yang berarti brand akan dikenal juga oleh anak-anak dan ter-image hingga mereka cukup mampu untuk mengkonsumsi atau menggunakan brand tersebut.

JAMSOSTEK - Alternatif Tepat Pelindung Tenaga Kerja


Minggu yang lalu saya mengalami kecelakaan kecil yang menyebabkan tangan saya harus menerima jahitan. Kecelakaan tersebut terjadi di luar waktu kerja saya. Biaya yang harus dikeluarkan kebetulan tidak seberapa dan sayapun masih memegang polis asuransi dari salah satu perusahaan asuransi swasta (meskipun untuk itu saya tidak melakukan reimburse).

Mungkin banyak yang tidak tahu bila sebenarnya pekerjaan di bidang event organizer juga rawan dengan kecelakaan. Kegiatan para kru mulai dari pemasangan material promo, loading - unloading, setting sampai bongkar venue (stage, backdrop dan sebagainya) cukup beresiko terhadap kecelakaan. 

Bayangkan apabila pada saat pemasangan baliho kru yang bertugas melakukan kesalahan yang berakibat tertimpa baliho yang berukuran besar (sebagai bayangan rata-rata ukuran baliho normal adalah 3 x 4 meter), atau saat pemasangan stage rigging yang lumayan berat. Beberapa daerah yang saya kunjungi malah tidak mengenal safety tools alias mengerjakan semua pekerjaan berat tersebut tanpa alat pengaman. Semakin rumit konsep yang akan dibuat  semakin banyak property yang dibutuhkan dan bisa jadi semakin beresiko bagi kru atau tenaga kerja lapangan yang mengerjakannya.

Jamsostek adalah pilihan yang mencukupi dan cenderung tepat untuk kondisi dunia kerja di Indonesia. Tenaga Kerja di berbagai usaha di bidang formal dapat menjadi peserta. Program-program yang ditawarkan oleh Jamsostek adalah :
  • Jaminan Hari Tua
  • Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
  • Jaminan Kecelakaan Kerja
  • Jaminan Kematian
Bagaimana dengan pekerja lepas dan pengusaha mandiri? Semuanya ternyata dapat terdaftar sebagai peserta Jamsostek dan termasuk ke dalam program TK-LHK dan Jasa Kontruksi.

Pelayanan yang diberikan oleh Jamsostekpun cukup baik. Pengajuan klaim yang cukup mudah ditambah respon yang cepat saat ini menjadi standar pelayanan mereka. Dengan jaringan kantor yang tersebar di hampir seluruh daerah di Indonesia, cukuplah alasan untuk menjadikan Jamsostek Pelindung Pekerja dan Mitra Pengusaha yang tepat.

Jumat, 19 Maret 2010

Warisan Enak dan Kepedulian Smesco pada Pelestarian Selera Indonesia

Sejak diselenggarakan pada bulan Mei 2009 yang lalu dan dalam rangka soft opening SMESCO Building, kesuksesan penyelenggaraan Festival Warisan Enak layak diberi apresiasi. Penyelenggaraan yang terakhir sekitar bulan Desember 2009 lalu terbukti berhasil menujukkan peran SMESCO sebagai lembaga yang membantu berkembangnya Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Dalam hal ini KUKM yang terbantu adalah yang bergerak dalam bidang makanan tradisional/khas Indonesia.

Didirikan pada bulan Maret 2007 Smesco Indonesia Company selama ini bisa dibilang cukup berhasil mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia di dunia internasional.  Dengan  mulai digunakannya Smesco Building untuk berbagai aktifitas pendukung bisnis KUKM layaklah apabila Smesco dikatakan konsisten terhadap tujuan pendiriannya. Beberapa area pada Smesco Building digunakan  sebagai gallery yang selain sebagai tempat pamer  juga melayani penjualan ritel produk-produk KUKM Indonesia. Display yang menarik cukup bisa menarik pengunjung untuk mengamati, mengagumi dan membeli produk-produk Indonesia pilihan. Saya dua kali mengajak beberapa tamu delegasi Trade Expo saya (di luar schedule kegiatan mereka) untuk berkunjung ke gallery ini.

Kembali ke Warisan Enak. Event ini menampilkan berbagai makanan khas Indonesia (saya beberapa kali malah menemukan masakan Indonesia yang belum pernah saya cicipi sebelumnya). Kemasan event yang menggabungkan (bazar) makanan dengan hiburan tradisional Indonesia memang cukup menarik. 

Setelah beberapa kali penyelenggaraan, event ini mulai menemukan bentuknya sehingga penyelenggaraannyapun semakin rapi. Baik dari segi konsep maupun teknis pelaksanaan. 

Pihak Smesco-pun mulai berani untuk bekerjasama dengan beberapa pihak seperti salah satunya komunitas pecinta warisan budaya Indonesia. Pada perkembangannya event ini bisa juga dijadikan daya tarik pariwisata Indonesia. Sayangnya schedule event yang belum pasti menjadi kendala bagi biro wisata untuk memasarkan atau memasukkan event ini  ke dalam agenda wisata yang bisa dijual.

Harapan saya semoga event ini dapat terus (rutin) diselenggarakan, karena melalui event inilah kita diingatkan untuk berselera Indonesia dan melestarikannya. Pelestarian makanan khas Indonesia tidak akan terjadi bila lidah kita tidak mempunyai selera Indonesia. 

Selain itu harapan untuk Smesco agar tetap konsisten dengan tujuan dan misinya, karena masih banyak Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah yang menanti bantuannya untuk mengenalkan produk dan potensi Indonesia yang sangat besar.

Rabu, 17 Maret 2010

Pesona Magis Lukisan Ida Bagus Indra

Dalam perjalanan saya mempersiapkan sebuah event tahun lalu di Bali, saya dikenalkan kepada salah satu pelukis yang menurut beberapa sumber karyanya masuk jajaran "most wanted". Ida Bagus Indra atau sering dipanggil IBI.

Sebelumnya saya berkenalan dengan istri IBI (yang kebetulan bernama sama dengan saya) di gallerynya di kawasan Jalan Thamrin - Denpasar. Pada gallerynya yang artistik tersebut dipajang beberapa lukisan IBI. Kesemua lukisan yang terpajang disana mengambil objek wanita yang ditampilkannya dengan sangat indah. Cantik dengan pesona magis. Dari Mbak Arilah  saya tahu objek lukisan IBI adalah dirinya. Obrolan yang berlanjut dengan undangan makan malam di sanggarnya tentu saja saya terima. 

Memasuki sanggarnya (saya lupa daerahnya) yang benar-benar asri, unik dan mistis (saya sempat nongkrong di pinggir kolam renangnya yang menghadap hutan bambu dan tidak terasa bulu kuduk saya berdiri) pastilah terbayang segala inspirasi dapat muncul  disana. 

Mendengar obrolan IBI yang ditimpali sang istri serasa melihat pengantin baru yang menceritakan kisah-kisah roman mereka. Perasaan  cinta sang pelukis terhadap modelnya Inilah yang (menurut saya) membuat penggambaran sosok wanita dalam lukisan-lukisannya begitu hidup. IBI saat itu baru saja meluncurkan karya-karyanya dalam tema Kama Sutra yang sensual tapi indah yang menggambarkan ritual cinta mereka.
  
Diceritakannya pula proses penciptaan lukisannya yang melalui proses ritual keagamaan untuk persiapannya. Sang model yang merasa tidak memiliki bakat menari setelah melalui proses ritual tersebut bisa berubah menjadi seorang penari yang mahir semahir sang pelukis menarikan kuasnya. Itulah yang (menurut saya juga) membuat seolah lukisan tersebut memiliki pesona magis. Mbak Ari bahkan bercerita pada salah satu proses persiapan penciptaan lukisan yang mengambil setting di salah satu pantai keramat, dia sempat benar-benar emosional yang menunjukkan betapa beratnya tugasnya sebagai model (seolah ada kekuatan lain yang mengambil peran).
Obrolan hangat kami ditimpali pula dengan cerita-cerita yang membangkitkan inspirasi, karena selain proses penciptaan yang menarik juga tentang kehidupan yang ternyata tidak mudah. IBI saat memutuskan menjadi pelukis di Australia ditentang oleh keluarganya yang berujung pada penghentian subsidi. Tanpa uang IBI bahkan saat itu bersedia menjual satu lukisannya dengan harga murah hanya untuk makan sekali. Dibantu pengorbanan dan cinta sang istrilah kekuatan  untuk hidup datang dan berujung keberhasilan. Sebuah sumber inspirasi yang indah.

Saat ini kegiatan IBI selain menciptakan karya-karyanya yang indah juga berkeliling dunia mengenalkan karya-karyanya dibantu keahlian sang istri yang mantan Public Relation sebuah hotel ternama di Bali. Saya juga belajar banyak, bagaimana proses eksebisi lukisan di luar negeri terutama Eropa. Persiapan logistik berupa pem-packing-an lukisan, proses asuransi dan sebagainya saat ini tidak banyak dilakukan. Perjalanannya ke luar negeri saat ini hanya membawa beberapa lukisan saja, selebihnya berupa pendokumentasian lukisan dalam format digital. Sesampainya di sana mereka hanya cukup melakukan presentasi dengan menampilkan slide-slide tersebut. 

Sebuah cara yang menarik dan yang pasti mendukung pariwisata Indonesia (dalam hal ini Bali), karena para kolektor yang tertarik rela datang ke Bali hanya untuk mengunjungi gallery dan melakukan transaksi.

Satu lagi sosok yang saya kagumi. Indonesia harus bangga memiliki seorang pelukis seperti IBI ini, karena karya-karyanya menampilkan sosok wanita Indonesia dan kebudayaannya dan justru banyak dikenal dan dibicarakan di luar negeri.
 

Remy Silado

Sebagai persiapan peringatan 60 tahun Hubungan (bilateral) Indonesia - China dimulai tahun lalu kami mempersiapkan rangkaian event yang akan dilaksanakan sepanjang 2010 dan dimulai pada 13 April 2010. Rangkaian kegiatan tersebut akan diselenggarakan di China (rencana awal di Beijing) dan Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang dan beberapa kota yang akan ditentukan kemudian). 

Salah satu konsep yang saya ajukan adalah apresiasi terhadap pengarang-pengarang Indonesia dan China yang membantu menggambarkan hubungan Indonesia - China dalam karya-karyanya. Salah satu tokoh yang saya nominasikan adalah Remy Silado. Lewat (salah satu) karyanya Ca-Bau-Kan, Remy Silado menggambarkan budaya Indonesia dan pengaruh China yang melebur menjadi satu budaya yang menarik.

Ca-Bau-Kan menceritakan perjalan hidup dan cinta Siti Noerhaijati soorang wanita betawi yang kerap dipanggil Tinung. Dia adalah seorang Ca-Bau-Kan yang pekerjaannya "menghibur" orang Tionghoa pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Cintanya kepada Tan Peng Liang seorang pedagang candu dan tembakau yang peranakan China (Tionghoa) dari Semarang. Berbagai rintangan dan halangan mereka lewati seperti perbedaan ras, status sosial, kedatangan pasukan Jepang dan perang kemerdekaan Indonesia. Cerita berakhir dengan tetap kuatnya cinta mereka sampai kematian mendatangi mereka.

Remy Silado dilahirkan di Makasar tanggal 12 Juli 1945 dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Semarang dan Solo. Karirnya dimulai di Semarang sebagai wartawan majalah Tempo. Pengalaman tinggal di Semarang inilah yang mungkin menjadi inspirasi Ca Bau Kan yang berlatar budaya China-Semarang. Bahasa dan dialek China Semarang yang mencampurkan bahasa Indonesia dan Jawa menciptakan aksen China-Indonesia-Jawa yang unik.

Remy Silado menulis berbagai karya sastra selain novel dan juga dikenal sebagai pelukis dan seorang dramawan.  Remy juga terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Berbagai penghargaan di bidang kesusastraan pernah diraihnya.

Dalam karya-karya sastranya Remy Silado seringkali mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang digunakan. Inilah yang membuat karya-karyanya unik dan istimewa. Selain itu Remmy Silado selalu melakukan riset yang mendalam disamping kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Rasanya tidaklah berlebihan pilihan saya.

Rabu, 10 Maret 2010

Lukisan Toto Sunu : Gambaran Masyarakat Indonesia

Pada salah satu event pameran lukisan yang saya kerjakan yang diikuti oleh beberapa pelukis Indonesia dan asing, saya tersenyum sendiri melihat beberapa karya salah satu pelukis Indonesia. Toto Sunu sang pelukis membuat suasana dinding gallery menjadi bernuansakan keceriaan Indonesia.

Pada lukisan Toto Sunu budaya Indonesia digambarkan menarik penuh keceriaan dengan sosok manusianya yang lucu. Bentuk tubuh manusia pada lukisan Toto Sunu digambarkan tidak proposional antara bentuk kepala yang kecil dengan bentuk badan yang bulat besar. Sekilas kesimpulan yang diambil, sang pelukis ingin menggambarkan manusia-manusia di Indonesia yang gemar  menimbun kesenangan hingga berbadan besar tanpa diimbangi pikiran dan akal yang besar sehingga berkepala kecil.
Mengenal Toto Sunu serasa berbincang dengan sahabat lama, hangat dan menyenangkan (beliau beberapa kali malah menunjukkan trick sulap). Penggambaran manusia pada lukisannya ternyata bukan dimaksudkan menyindir masyarakat kita. Badan yang besar yang lebih besar daripada kepala diibaratkan kesuburan yang berarti kebahagiaan.  Karena penggambaran manusia yang unik ini karya-karyanya sering disebut kelirumologi.

Lukisan-lukisannyapun selalu menggambarkan kebahagiaan dan keceriaan berbalut budaya Indonesia. Sesuatu yang menjadi harapannya. Salah satu lukisannya menggambarkan kerukunan beragama di Indonesia, hal yang sepertinya kurang kita temui saat ini. Kebersamaan pada lukisan bertemakan panen hasil bumi juga benar-benar merupakan cerminan budaya kita yang sebenarnya.

Pada lukisan-lukisannya Toto Sunu banyak menampilkan peran wanita dalam masyarakat kita. Toto Sunu bahkan menggambarkan wanita dengan aktifitas kekinian seperti menjadi wanita karir dan lomba rias yang menggambarkan wanita berlomba-lomba untuk cantik.

Semua karya Toto Sunu menampilkan manusia yang ceria dan selalu tersenyum, karena tidak pernah berpikir untuk berduka. Lukisan-lukisan Toto Sunu seolah mengandung harapan Indonesia yang selalu bersuka dan tidak pernah berduka. Penggambaran Indonesia yang harus kita miliki dan wujudkan.

 

Senin, 08 Maret 2010

Java Jazz Festival 2010 - Tantangan Venue Baru

Event besar Jakarta Jazz Festival 2010 baru saja selesai. Menyesal rasanya tahun ini saya tidak bisa menonton karena bersamaan dengan kegiatan saya di luar Jakarta. Pengalaman dan kesan yang baik pada penyelenggaraan tahun 2009 lalu membuat saya penasaran apa lagi yang disajikan pada event ini tahun 2010. Iming-iming menonton spesial show John Legend dan baby Face (maaf Toni Braxton bukan favorit berat saya). Teman-teman saya yang juga kecewa saya tidak dapat pergi bersama mereka akhirnya rajin memberikan info seputar event ini baik lewat e-mail, twitter maupun facebook saya. 

Saya pernah mengungkapkan kepada teman-teman saya bahwa ada sebuah pertaruhan besar sekaligus tantangan yang menarik bagi penyelenggara kali ini. Pemindahan lokasi dari Jakarta Convention Center ke Jakarta International Expo bukan perkara yang mudah. Luas venue yang hampir lima kali lebih besar plus jauhnya lokasi (Kemayoran) adalah tantangan yang harus dijawab.

Tahun-tahun sebelumnya JJF memang menghadapi tantangan yang menarik dan selalu bisa dibuktikan dengan kesuksesan. Mendekati zero complain adalah kebanggaan bagi setiap penyelenggara event. Tahun 2009 lalu JJF terlaksana dengan sukses di tengah keraguan dunia musik internasional atas keamanan Indonesia. Pemerintah Amerika dan beberapa negara asal musisi asing menerapkan travel warning bagi masyarakatnya untuk berkunjung ke Indonesia. Kerja keras meyakinkan para bintang tersebutlah yang patut diacungi jempol sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang aman dan patut dikunjungi.

Teman-teman saya banyak yang mengeluhkan jauhnya lokasi JJF kali ini plus kurangnya koordinasi diantara panitia sendiri mengenai hall-hall yang digunakan. JIExpo memang memiliki hall-hall yang saling berpencar dengan jarak antara satu hall dengan hall yang lainnya berjarak lumayan. Pengunjung yang belum pernah mengunjungi JIExpo dan tidak mempunyai schedule acara tentunya akan kesulitan apalagi di tengah lautan pengunjung yang lain. Menurut teman saya pula, besarnya venue kali ini justru membuat event terlihat kurang pengunjung.

Venue yang besar memang bisa jadi membuat event kelihatan kurang pengunjung dan untuk penyelenggaraan di JIExpo ini adalah keluhan yang kesekian  kali setelah Indonesia International Motor Show 2009 juga mengalami hal yang serupa. Penyelenggaraan tahun sebelumnya di JCC yang sangat padat pengunjung menyebabkan penyelenggara IIMS 2009 memindahkan event tahunannya ke JIExpo dengan alasan kenyamanan buat pengunjung.

Apapun tanggapan mengenai venue baru tersebut, yang jelas event JJF 2010 ini patut diacungi jempol karena konsistensi dan tekadnya untuk memperkenalkan Indonesia yang aman, nyaman dan bisa menjadi surga bagi penikmat musik (apapun genrenya, karena artis-artis JJF juga tidak semuanya bergenre jazz) dunia. Tugas tahun depan adalah mempertimbangkan penggunaan venue dengan efisien dan membawa musisi yang lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas. Pemilihan artis yang fenomenal pada tahun tersebut juga patut dipertimbangkan. Jujur meskipun John Legend favorit saya tapi tidak begitu membuat penasaran seperti saat Jason Mraz muncul di JJF 2009 lalu.


Jumat, 05 Maret 2010

Insentif pada MICE : Unsur yang Belum Berkembang

Seperti kita ketahui kegiatan MICE mengandung unsur (M)eeting, (I)ncentive, (C)onference dan (E)xbhition. Dari keempat kegiatan tersebut rasanya hanya Insentif saja yang belum banyak berkembang di Indonesia. 

Insentif berarti suatu bonus yang diberikan oleh suatu Perusahaan atau Lembaga kepada karyawan atau anggotanya sebagai bentuk apresiasi atas peningkatan atau pemaksimalan kerjanya. Misalnya seorang karyawan bagian pemasaran menerima Insentif karena prestasinya melampaui target penjualan yang telah ditetapkan Perusahaan. Insentif dalam MICE disini diartikan sebagai bonus berupa paket perjalanan ke suatu negara, kota atau daerah yang memang terkenal dan menjadi impian setiap orang.

Daerah wisata tujuan favorit pemberian insentif di Indonesia adalah Bali. Tidak hanya perusahaan-perusahaan di Indonesia saja yang memilih Bali untuk iming-iming pemberian insentif bagi karyawannya, tapi juga banyak perusahaan atau lembaga internasional di dunia. Tujuan wisata insentif lainnya adalah Jogja. Sebenarnya banyak perusahaan atau lembaga di Indonesia lebih banyak memberikan bonus perjalanan ke luar negeri. 

Bisnis meeting dan conference (bahkan exhibition) mulai merambah hingga ke tingkat kabupaten, dimana hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya hotel yang melengkapi fasilitasnya dengan ruangan untuk conference & meeting dengan kapasitas yang lumayan besar. Beberapa kabupaten bahkan sudah berani mengadakan kegiatan-kegiatan tingkat nasional. Sayangnya untuk insentif masih banyak yang belum berhasil membuat daerahnya menjadi tujuan wisata insentif.

Kunci utama semuanya adalah masalah promosi yang belum maksimal. Dalam hal kegiatan wisata insentif dengan tujuan daerah-daerah di Indonesia, diharapkan peran biro/agen perjalanan untuk lebih kreatif lagi. Salah satu bentuk kekreatifan tersebut misalnya membuat paket wisata ke daerah-daerah di Indonesia dengan mengajak salah satu tokoh atau selebritis untuk ikut serta. Dengan contoh penawaran program seperti itulah seorang karyawan dapat bangga dengan pemberian insentif atas pencapaian kerjanya. Peran perusahaan juga sangatlah penting untuk mengangkat wisata insentif daerah-daerah di Indonesia lebih dikenal lagi.

Membanggakan rasanya apabila suatu saat pegawai-pegawai di luar negeri berlomba-lomba meningkatkan prestasi kerjanya agar dapat memperoleh insentif berupa wisata ke Indonesia.

Rabu, 03 Maret 2010

Satay (Sate) : The Authentic Cuisine from Indonesia

Pada salah satu event yang pernah saya kerjakan yang diikuti oleh beberapa delagasi dari beberapa negara, saya sempat dibuat terkaget-kaget oleh permintaan salah satu peserta. Peserta dari China tersebut meminta diajak menikmati Satay (sate) khas Indonesia. Teman saya yang bersedia mengantarkan justru ganti membuat orang-orang China tersebut kaget. Pertanyaan mau sate apa dijawab Indonesian Satay. Teman saya jadi geli sendiri setelah dijelaskan bahwa di negara mereka Satay identik dengan Sate Ayam. 

Topik pembicaraan tentang sate beberapa hari kemudian berlanjut. Salah seorang teman juga bercerita bahwa waktu saudaranya ke London disanapun satay digemari. Sayangnya satay disana lebih dikenal sebagai makanan dari Malaysia. Mungkin saja hal yang wajar karena Malaysia bekas daerah kolonial Inggris dan di Malaysia sate juga termasuk makanan rakyat yang dikenal.

Menurut salah satu sumber yang saya baca sate pertama kali dikenal atau berasal dari Indonesia tepatnya Jawa. Migrasi orang-orang Indonesia ke Malaysia dan beberapa negara di Asia Tenggaralah yang menyebabkan sate dikenal di banyak negara di kawasan ini.

Pengalaman dengan Malaysia yang gemar mengklaim kebudayaan Indonesia sebagai salah satu kebudayaannya seperti Batik, Reog, Angklung (bahkan tari Pendet) cukup membuat khawatir juga bila dikaitkan dengan jenis masakan yang satu ini. Promosi wisata mereka bisa jadi memperkenalkan Satay sebagai masakan asli Malaysia. Untuk itulah kita seharusnya memperkenalkan sekaligus mengenal sate itu sendiri.

Dari sumber wikipedia sate di Indonesia ternyata mempunya banyak sekali varian yang masing-masing dikenal di beberapa wilayah dan daerah di Indonesia. Selain Jawa varian sate dapat ditemui di Sumatera (Padang), Sulawesi (Makasar), Bali, Lombok dan Kalimantan (Banjar). Berikut varian-varian tersebut :
  • Jawa : Sate Ponorogo, Sate Tegal, Sate Ambal, Sate Blora, Sate Buntel-Solo, Sate Mranggi-Sunda, Sate Kerbau-Kudus, Sate Kelinci-Jogja, Sate Kuda-Jogja, Sate Bulus-Jogja, Sate Bandeng-Banten, Sate Ular-Surabaya, Sate Babi-Pecinan Jakarta
  • Madura : Sate Madura
  • Sumatera : Sate Padang 
  • Kalimantan : Sate Banjar
  • Sulawesi : Sate Makasar
  • Bali : Sate Lilit
  • Lombok : Sate Pusut, Sate Ampet, Sate Belut
 Mencari sumber yang terpercaya tentang asal-usul sate ini dan membandingkan dengan sejarah yang dipunyai negara-negara lain perlu dilakukan untuk selanjutnya melakukan klaim (apabila terbukti) sate merupakan masakan asli Indonesia. 

Mengemas sate sebagai masakan yang berpenampilan internasional juga harus dipikirkan agar sate semakin dikenal.

Ir. Soekarno - Bapak MICE Indonesia

Suatu kali pernah terjadi perdebatan seru antara saya dan teman saya mengenai siapa Bapak MICE Indonesia. Teman saya memilih Ali Sadikin karena menurutnya Pekan Raya Jakarta yang merupakan event eksebisi terbesar pertama di Indonesia lahir atas ide dan pemikiran beliau. Ali Sadikin bahkan melakukan riset hingga ke Jerman sehingga digelarnya event tersebut pada tahun 1968. Menurut teman saya pembentukan organisasi pengelola PRJ bahkan perkembangannya terus dipantau oleh Beliau. 

Saya  memilih Ir. Soekarno sebagai Bapak MICE Indonesia, karena beliaulah yang mewujudkan event internasional pertama di Indonesia: Konferensi Asia Afrika. Menurut saya tidak berlebihan (dan bukan karena kebetulan saat itu saya bekerja di Asia Africa Foundation) bila  Ir. Soekarno layak bergelar Bapak MICE Indonesia. Atas peran beliaulah Konferensi Asia Afrika sukses menghadirkan Peserta dari negara-negara Asia Afrika yang masing-masing delegasinya selain terdiri dari Pemimpin Negara juga anggota-anggota lainnya.

Saat itu Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mewakili Indonesia akan menghadiri undangan Konferensi Lima Negara di Kolombo. Bung Karno berpesan untuk membuat Konferensi yang dihadiri seluruh negara di Asia Afrika. Kenginan dan pemikiran Bung Karno ini diutarakan dalam Konferensi Kolombo tersebut yang dihadiri oleh negara India, Pakistan, Sri lanka dan Burma.

Menuruti keinginan Bung Karno pulalah Ali Sastroamidjojo mengirimkan undangan, meyakinkan dan memastikan agar Pemimpin-pemimpin negara-negara Asia Afrika dapat hadir. Sebanyak 25 negara diundang. Saat itu bahkan banyak negara yang masih berada di bawah bayang-banyang bekas penjajahnya.

Sebagai persiapan pelaksanaan event tersebut, Bung Karno mengganti nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka. Beliau bahkan sempat menginginkan merubah interior Gedung Merdeka. Mendekati pelaksanaan event tersebut Bung Karno menyempatkan meninjau persiapan-persiapannya meliputi :
akomodasi, logistik, transport, kesehatan, komunikasi, keamanan, hiburan, protokol, penerangan, dan lain-lain. Hotel Homann dan Hotel Preanger termasuk diantaranya yang Beliau tinjau karena termasuk hotel-hotel yang dipersiapkan sebagai tempat menginap para tamu yang berjumlah 1300 orang. Menurut salah satu sumber yang saya baca keperluan transport dilayani oleh 143 mobil, 30 taksi, 20 bus, dengan jumlah 230 orang sopir dan 350 ton bensin tiap hari serta cadangan 175 ton bensin. Tiap detail seolah tidak luput dari pengamatan Beliau.

Akhirnya Konferensi Asia Afrika sukses terselenggara yang tidak saja karena materi dan hasil konferensi yang akhirnya menginspirasi negara-negara Asia Afrika (banyak negara di Asia dan Afrika yang menuntut kemerdekaannya setelah konferensi ini), tetapi juga karena penyelenggaraan yang terkoordinasi dengan baik. Sukses penyelenggaraan event inilah yang memacu bermunculannya Konferensi tingkat Internasional di Indonesia.

Selain Konferensi Asia Afrika tahun 1955 masih banyak lagi event-event akbar berskala internasional yang lahir dari pemikiran Beliau. Karenanya (sekali lagi) sebutan Bapak MICE Indonesia tidaklah berlebihan dan layak digelarkan kepada Beliau.

Tulisan dari berbagai sumber :
The Bandung Connection (Roeslan Abdulgani), Yth. Ibu Wati Knapp (putri Bapak Roeslan Abdulgani)
Yth. Bapak Soejoko (General Secretary of Asia Africa Foundation)

Jogja Expo Center : Pilihan Venue untuk Kegiatan MICE di Yogyakarta

Pada salah satu event  eksebisi yang kami kerjakan di Jogja, pilihan venue kami jatuhkan pada Jogja Expo Center. 

Pertimbangan kami menggunakan venue tersebut lebih disebabkan kapasitas yang kami butuhkan sekitar 8.000 square meter tersedia di salah satu hall di Jogja Expo Center. Fasilitas pendukung lainnya seperti tersedianya Electric Power yang memadai juga tidak mengecewakan.

Dibangunnya Jogja Expo Center tentulah merupakan bukti seriusnya Pemerintah Provinsi D.I Yogyakarta mendukung kegiatan MICE di Yogyakarta. Apalagi Yogyakarta merupakan salah satu daerah tujuan wisata MICE selain Jakarta dan Bali. 

Menempati area seluas 5,4 Ha dengan luas bangunan 17.090 sqm yang terdiri dari :
- Bima Hall : 8.640 sqm (144 x 60)
- Yudhistira Hall : 882 sqm (42 x 21)
- Arjuna Hall : 1.260 sqm (60x21)
- Nakula - Sadewa VIP Room : 90 sqm (6x15)
- Hanoman Room : 144 sqm (8x18)
- Prevention Room : 1.404 sqm (156 x 9)

Salah satu problem utama persiapan kegiatan eksebisi yaitu area untuk loading barang yang mudah terjangkau tersedia di Jogja Expo Center ini. Area parkir bahkan sepertinya muat untuk belasan truk dan beberapa kontainer sekaligus. Jarak antara venue ini dengan pusat kota (Malioboro) kurang lebih hanya berjarak tempuh 15 menit. Untuk event kami yang akan dihadiri peserta dari beberapa negara dan derah di Indonesia bandara juga tidak jauh hanya berkisar 10 menit. Lokasi untuk akomodasi juga tidak terlalu jauh.

Didukung juga oleh SDM yang cukup kooperatif tepatlah rasanya venue ini menjadi pilihan untuk penyelenggaraan event MICE di Yogyakarta.


http://www.jogjaexpocenter.com

Senin, 01 Maret 2010

American Idol : Ketika Mata lebih Dominan daripada Telinga

American Idol memasuki session ke 9 tahun 2010 ini. Sangat menarik sekali bagi saya menonton kontes ini (meskipun sejak tahun 2009 RCTI tidak lagi menayangkannya). Menonton di Star TV, American Idol telah memasuki babak 24 besar minggu lalu. Banyak inspirasi bagi dunia entartainment yang bisa diambil disini, mulai dari setting stage & venue, format kompetisi, penampilan host sampai konsep entertainment yang memunculkan bintang-bintang top sebagai penampil tamunya.

Satu ganjalan saya melihat penyelenggaraan American Idol ini dari tahun ke tahun. Ganjalannya adalah : mengapa mata bisa lebih dominan daripada telinga dalam menentukan seorang penyanyi terbaik. 

Hampir semua manusia diciptakan memiliki panca indera. Penglihatan, Penciuman, Pengecapan, Pendengaran dan Peraba. Masing-masing tentunya memiliki fungsi yang bisa jadi dominan pada saat-saat tertentu. Mata akan dominan bekerja bila kita melihat tontonan atau membaca sedangkan Telinga akan sangat dominan kegunaannya apabila kita mendengarkan lagu atau nyayian seseorang (sehingga kita bisa menilai sumbang atau tidaknya suara penyanyi tersebut).

Dominasi suatu indra kita terkadang tidak sesuai untuk peristiwa yang ada. Kita menutup telinga tapi membuka mata saat kita sedang kena marah atau makian dari orang lain. Kita menutup mata tapi membuka telinga saat ada tontonan yang mengerikan di depan kita. Respon yang salah ini terjadi setiap American Idol digelar. (Bahkan di Amerika) Komentar dan pilihan penonton seringkali tidak mengandung korelasi dengan tujuan acara ini yang mencari bakat-bakat penyanyi.

Dengan setting stage yang elegan dan tidak terlalu glamour menurut saya, tentunya harapan penyelenggara sudah terbaca. Setting yang simple diharapkan terlihat megah dengan penampilan penyanyi dengan suara yang mampu menyihir. Hal ini ditambah dengan kostum yang seringkali terlihat simpel. Mencari Penyanyi bukan Pesohor (seperti pernah Randy Jackson bilang : Singing Contest not Popularity Contest). 

Tahun 2009 yang lalu pada session ke 8, salah satu kontestan Adam Lambert diunggulkan oleh semua juri dan sebagian pemirsanya. Tehnik vokal yang benar-benar bagus dengan pencapaian nada-nada tinggi yang tidak biasa ditambah penampilannya yang selalu menghibur menjadi andalannya. Dalam salah satu penampilannya dia bahkan mendapat standing ovation dari Simon Cowelll salah satu juri yang sangat pelit dalam memuji. Randy Jacksonpun memberikan komentar Adam Lambertlah peserta American Idol terbaik dari penyelenggaraan selama ini.

Berminggu dilewatinya dengan pujian, sayang sekali pada akhirnya Adam Lambert tidak berhasil  menjadi American Idol. Pemenangnya Kriss Allen yang beberapa kali tampil justru dengan celaan terutama dari Simon yang menyebutnya membosankan dan mudah untuk dilupakan. Komentar atas kemenangan Kriss Allen dari beberapa situs antara lain menyebutkan bahwa dia layak menjadi Idol karena cute, hot , Idol paling ganteng yang pernah terpilih. Jarang yang menyebutkan kemenangannya karena suaranya yang lebih baik dari Adam Lambert. Salah satu komentar malah mengatakan untung Kriss Allen yang menang karena Adam Lambert aneh (Adam Lambert sering tampil bak rocker era '80-an dengan maskara).

Cerita tadi baru pada session tahun lalu, belum termasuk session tahun-tahun sebelumnya. Jennifer Hudson pernah gagal justru di babak-babak awal padahal kualitas suaranya sangat diakui. Hudson sendiri justru sekarang merupakan mantan finalis paling terkenal dan paling berprestasi setelah kemenangannya di ajang Oscar dalam drama musikal Dream Girls (akting dan suaranya benar-benar mengagumkan). 

Kesalahan penonton memfungsikan indera ini akhirnya menyebabkan seorang yang pantas menjadi Idol menghadapi nasib yang lain.
Pada American Idol session ini komentar-komentar juripun (ditambah juri tamu yang kadang tidak berkualitas, Victoria Beckham misalnya dan digantinya Paula Abdul dengan Ellen yang komedian) sering aneh-aneh. Kamu kelihatan cantik, kamu kelihatan sexy dan sebagainya sepertinya bukan komentar yang cocok untuk mencari bakat penyanyi. Mungkin apabila kontes ini mencari Penyanyi berpenampilan fisik menarik (seperti Pussycat Dolls Present : The Search for The Next Doll yang syaratnya bisa menyanyi dengan baik dan sexy) komentar-komentar atas penampilan fisik sah-sah saja.  

Apapun ganjalan tersebut bagi saya American Idol memang tetap layak ditunggu baik sebagai hiburan maupun bahan referensi untuk event-event saya selanjutnya.

Sinetron : Pencitraan Indonesia yang Salah

Tulisan ini memang bukan topik baru tetapi sepertinya memang  masih harus dibicarakan dan diadakan perubahan. 

Setiap hari (dari pagi sampai malam) beberapa stasiun televisi Indonesia menayangkan sinetron. Pada promonya produser, artis maupun sutradara selalu mengatakan sinetron mereka berbeda dari sinetron-sinetron yang lain. Kenyataannya hampir semuanya sama, dimana penggambaran hitam dan putih, jahat dan baik sangatlah jelas. 

Sudah berkali-kali ditulis bahwa sinetron Indonesia tidak bermutu, karenanya jenis tontonan ini sangat tidak disarankan untuk dinikmati. Dari segi tema kebanyakan memang tidak menarik, apalagi bila ditonton tiap episodenya lama kelamaan akan membawa kebosanan. Pada detailnya sinetron Indonesia justru semakin parah. Penggambaran seorang pembantu yang berdandan menor (salah satu sinetron pernah menampilkan sosok pembantu yang alisnya tertata rapi dengan make-up yang bagus) salah satunya. Belum lagi sosok orang miskin yang tidak punya apa-apa yang digambarkan secantik Cinta Laura atau Julie Estelle benar-benar tidak mencerminkan realita kehidupan kita. Mungkin di Indonesia ada saja sosok seperti itu, tapi bukankah seharusnya kondisi yang diadopsi adalah kenyataan keseharian kebanyakan dari kita? 

Penikmat sinetron-sinetron ini selain kalangan menengah (kalangan atas tidak pernah diungkapkan sebagai penggemar tontonan ini) dan yang terbanyak adalah kalangan bawah. Penikmat dengan tingkat intelektual yang cukup tentulah bisa memilah-milah mana yang benar mana yang buruk, betapi bagaimana dengan kalangan dengan pendidikan yang kurang atau bahkan anak-anak. Seringkali ditemukan berita bahwa kejahatan atau kecelakaan pada anak saat bermain adalah disebabkan pengaruh sinetron. Kita tentunya harus malu kalau berbicara perilaku masyarakat kita yang buruk karena pengaruh budaya barat yang didapat dari film. Kenyataan penonton film barat (Amerika) sangat sedikit dibandingkan penikmat sinetron.

Sebenarnya saya tidak akan menulis ini apabila seorang teman dari Malaysia tidak bertanya, apakah sinetron (mereka menyebutnya film) menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia? Teman saya benar-benar terhanyut dengan jalan cerita salah satu sinetron Indonesia hingga dia menemukan beberapa kejanggalan.Wajah-wajah (terlalu) muda pengusaha Indonesia, cantik dan bergayanya pembantu dan orang tak punya di Indonesia sampai kejahatan-kejahatan tokoh antagonis dalam sinetron tersebut.

Menurut teman saya bangsa Indonesia sangat tidak bijak bila mengatakan TKI yang bekerja di Malaysia terutama yang berstatus pembantu rumah tangga dikatakan selalu disiksa di Malaysia. Padahal menurutnya Sinetron-sinetron Indonesia menggambarkan kesadisan (yang menurutnya) yang lebih tidak manusiawi daripada berita-berita penganiayaan TKI di Malaysia.

Perlu diketahui bahwa saat ini banyak sinetron Indonesia yang diputar di Malaysia (dan beberapa negara lain) dan sepertinya sama dengan yang diputar di Indonesia sangatlah tidak bermutu.
Sinetron produksi Indonesia memang khas berbeda dengan telenovela, sinema tv India, drama Korea maupun Mandarin. Sayangnya kekhasan tersebut berupa buruknya citra yang ditampilkannya. 

Bagaimanapun juga sinetron sudah menjadi suatu industri yang tidak bisa dianggap remeh di Indoensia. Tiap hari semakin banyak wajah-wajah baru yang muncul di layar tv belum termasuk ratusan lagi yang mengantri tiap hari untuk mengikuti casting. Industri sinetron yang terus berkembang ini sayangnya tidak diikuti dengan perkembangan mutunya. Mengharapkan fatwa haram (sepertinya) produksi dan penayangan sinetron jelas tidak mungkin. Harapan hanya tinggal dialamatkan kepada pelaku-pelaku industri ini untuk benar-benar menjadikan produk-produknya mendidik untuk masyarakat. Yang jelas jadikanlah sinetron suatu pencitraan yang positif bagi Indonesia.